“Sudah biasa ada aktivis jatuh cinta, dan sudah biasa pula cinta mereka tak menemukan jawabnya”, begitu ungkap seseorang suatu ketika. Cukup membuat saya tertegun. Tapi tampaknya itu REAL!! Tak ada yang bisa saya katakan selain mengakui bahwa hal itu kerap terjadi di lapangan.
—-
Seseorang ikhwan menyimpan harap pada akhwat teman seorganisasinya. Berharap sebentar kemudian bisa segera menemui orangtua si akhwat dan menjadikannya sahabat seperjuangan. Tapi kehendak Allah ‘memaksanya’ untuk berlapang dada, mempersilakan ikhwan lain teman liqonya untuk meminang sosok pilihan hatinya tersebut.
—-
Seorang akhwat tergugu di tempat duduknya. Bergeming menanggapi ‘itikad’ baik yang disampaikan seorang lelaki sholeh berakhlak baik yang datang menemui walinya. Lama sekali ia menunggu hal itu terjadi padanya. Bukan dari lelaki yang datang hari itu, tetapi dari sosok lain yang telah ia harapkan bertahun-tahun sebelumnya. Kini ia harus memilih, memenangkan ambisi pribadi atau pilihan Allah, Tuhannya.
CERDAS ia putuskan: pilihan Allah harus ia menangkan.
—-
Itu kisah nyata di sekitar kita. Saat ini mungkin kita hanya menjadi pengamat di luar cerita. Tapi bisa jadi suatu ketika kita sendiri yang menjadi pelaku dalam cerita tersebut. Jika kita terpilih untuk mendapatkan episode hidup demikkian, seperti apakah sikap kita? Masihkah kelak, khusnudzan tersisa di hati kita atas pilihan yang Ia berikan?
Semoga saja, Allah berkenan memampukan kita untuk menyimpan rasa itu sendiri. Menjaganya hingga setan pun tak pernah tau adanya. Biarlah Allah mempersiapkan kisah terbaik untuk kita. Seindah kisah Fatimah (Azzahra) dan Ali (Bin Abi Thalib).
—-
di persinggahan, saat membutuhkan kisah-kisah yang menguatkan hati

