Kontroversi Kloning

T. Puteri Q, I. L. Agustina, I. O. Susilawati, N. Fitri, W. Sulistiono, M. N. Ihdal, W. T. Ambara, F. D. Sulistiyono, dan T. M. Lawati

Pendahuluan

Isu kloning menimbulkan kontroversi setelah proyek kloning domba Dolly tahun 1996 menjadi awal ‘keberhasilan’ kloning pada mamalia. Banyak kalangan, termasuk kalangan ilmuwan dan agamawan memperdebatkan berkembangnya teknik kloning untuk membuat duplikasi manusia. Akan tetapi, pengembangan kloning baru-baru ini ke arah pengobatan atau teurapeutik menjadi bahan pertimbangan tersendiri karena memberi manfaat yang sangat besar terhadap manusia. Oleh sebab itu, isu kloning perlu dikaji dan dibahas dengan mempertimbangkan 4 nilai dasar moral (4 basic moral principles) agar dapat memberikan tindakan dan keputusan yang bijak. Beberapa isu kloning yang dibahas dalam paper ini ialah reproduksi manusia, kloning theurapeutik, produksi unggas ungul, dan upaya konservasi hewan.

Analisis Isue Etika Teknologi Kloning

1. Kloning Reproduksi manusia

Penilaian berdasarkan 4 Basic Moral Principle

Autonomy: Setiap orang berhak untuk memiliki keturunan sebagai penerus cita-cita hidupnya. Namun tidak semua orang mampu memiliki keturunan dengan proses alami (jalur seks) karena memiliki kualitas telur dan sperma yang buruk atau karena tidak menikah. Kloning reproduksi menjadi solusi permasalahan tersebut dengan mengembangkan embrio yang bersumber dari sel somatis dan ovum seseorang.

Justice: Dibutuhkan banyak embrio untuk mencapai keberhasilan dalam teknologi kloning. Proses kloning bukanlah proses yang mudah. Tingkat kerumitan teknik yang cukup tinggi membuat beberapa embrio harus ‘dikorbankan’ akibat proses yang tidak berhasil.

Beneficence: Kloning reproduksi dapat membantu seseorang yang tidak bisa memiliki keturunan secara alami (seksual), ataupun seseorang yang tidak ingin menikah tapi ingin memilki keturunan secara biologis.

Nonmalficence:

Kloning reproduksi manusia sulit diterima karena berpotensi  menimbulkan banyak permasalahan. Hal terutama terkait dengan eksistensi manusia sebagai makhluk sosial yang membutuhkan pengakuan dari orang lain. Dalam teknologi kloning individu, dibutuhkan tidak hanya ovum dan nukleus sel somatis, tetapi juga rahim sebagai tempat perkembangan janin. Seorang wanita tidak akan terlalu sulit untuk mendapatkan kedua hal tersebut (ovum dan rahim). Akan tetapi, seorang lelaki yang bermaksud melakukan kloning membutuhkan partner wanita untuk mendapatkan donor ovum dan rahim yang ‘dititipi’ embrio hingga terlahir menjadi seorang bayi. Potensi masalah yang timbul dapat berkaitan dengan penetapan siapa orang tua kandung sang anak? Apakah Ayahnya saja (lelaki pemilik nukleus sel somatis); Ayah dan Ibu pendonor ovum; Ayah dan Ibu yang mengandungnya; ataukah ketiganya? Lalu bagaimana sang anak menjalani kehidupannya kelak di tengah masyarakat sebagai anak hasil kloning?

Penerapan teknologi kloning untuk tujuan reproduksi seperti hendak memperlakukan manusia seperti komoditas yang bisa dicetak sekehendak hati.

2. Kloning Theurapeutik

Penilaian berdasarkan 4 Basic Moral Principle

Autonomy: Para penderita penyakit kronis, seperti gagal ginjal, memiliki harapan baru untuk sembuh dari penyakitnya dengan melakukan kloning theurapeutik. Duplikasi organ tubuh yang diperoleh dengan kloning theurapeutik menjadi solusi atas donor organ yang sering menimbulkan penolakan oleh sistem imun. Pihak lain tidak dapat mencegah tindakan ini karena para penderita penyakit kronis berhak untuk mendapatkan kualitas hidup yang lebih baik.

Justice: Kloning theurapeutik memerlukan biaya yang sangat besar sehingga pemanfaatannya hanya bisa dilakukan oleh orang dengan kemampuan finansial yang cukup. Pengembangan Kt dapat menjadi solusi atas jual beli organ tubuh ilegal, seperti penjualan ginjal secara ilegal yang marak terjadi.

Beneficence: Organ yang dihasilkan dari kloning theurapeutik tidak akan menimbulkan penolakan sistem imun jika diberikan pada pelaku kloning. Kloning theurapeutik dinilai lebih aman daripada donor organ meskipun dari keluarga sendiri.

Nonmalficence: Timbul isu bahwa kloning theurapeutik akan dikembangkan sebagaimana kloning reproduksi yakni dengan membentuk individu baru. Individu hasil kloning tersebut diambil organnya untuk mengganti organ yang rusak pada pelaku kloning. Tindakan ini dinilai tidak manusiawi karena hidup seseorang sengaja dikorbankan demi kehidupan orang lain.

Kontroversi lain mengenai kloning theurapeutik terkait dengan penghentian perkembangan embrio (hasil kloning) pada fase tertentu untuk diambil stem cellnya. Sebagian kalangan menilai pengambilan stem cell dari embrio hasil kloning berarti membunuh calon individu baru.

3. Produksi Unggas Berkualitas Unggul

Penilaian berdasarkan 4 Basic Moral Principle

Autonomy: Para pelaku industri unggas berupaya memenuhi permintaan terhadap konsumsi unggas dan telur yang semakin meningkat setiap saat. Oleh sebab itu, dicari cara untuk meningkatkan produksinya dengan jumlah yang melimpah dan kualitas yang baik. Penerapan teknologi kloning dengan memproduksi chimera dijadikan solusi untuk mengatasi permasalahan tersebut. Dilihat dari segi ekonomi, para pelaku industri berhak mengambil tindakan tersebut karena didasari atas permintaan pasar yang tinggi.

Justice: Produksi chimera dan telur chimera untuk dikonsumsi manusia perlu ditinjau lebih lanjut karena dikhawatirkan akan menimbulkan efek samping terhadap kesehatan manusia. Sebaiknya tindakan produksi unggas secara massal tidak hanya dilakukan untuk kepentingan pengusaha saja tetapi juga pengaruh jangka panjang tehadap konsumen.

Beneficence: dapat dihasilkan unggas dengan kualitas unggul yang dapat menghasilkan telur dan daging dalam jumlah tak terhingga dan dalam waktu yang relatif lebih singkat.

Nonmalficence: tindakan kloning untuk memproduksi chimera dimungkinkan akan mendesak keberadaan spesies tipe liar yang  digunakan sebagai hewan percobaan penelitian. Selain itu, dimungkinkan populasi tipe liar akan jauh berkurang akibat kecenderungan para peternak yang lebih memilih aym chimer untuk kepentingan bisnisnya.

4. Upaya Konservasi Hewan

Penilaian berdasarkan 4 Basic Moral Principle

Autonomy: Para pemerhati lingkungan berupaya berbuat yang terbaik untuk menyelematkan hewan-hewan yang terancam punah dengan teknologi kloning. Menyelamatkan satu spesies dari kepunahan, dinilai dari sudut pandang ekologis, juga berarti menyelamatkan ekosistem secara keseluruhan. Hilangnya mangsa atau predator akan memberi efek domino bagi kehidupan hewan lainnya. Secara sederhana ini berarti membuka jalan kepunahan spesies lain. Oleh sebab tiu, tindakan para ahli konservasi perlu dihargai karena ditujukan untuk kepentingan orang banyak.

Justice: Dengan teknologi kloning hewan yang nyaris punah dapat diperbanyak. Namun perbanyakan jumlah individu tidak selalu menjadi jawaban terbaik atas upaya konservasi. Banyak yang harus dipertimbangkan antara lain pencegahan jual beli satwa dan pemburuan secara ilegal untuk kepentingan industri,  rehabilitasi lingkungan tempat hidup asli/ habitat di alam, dan daya dukung lingkungan untuk menjamin keseimbangan ekosistem.

Beneficence: Hewan yang nyaris punah dapat diselamatkan dan dipelihara secara eks situ ke suatu wilayah dengan kondisi alam yang mirip dengan habitat aslinya.

Nonmalficence: upaya konservasi hewan harus pula mepertimbangkan ketersediaan habitat atau daya dukung lingkungan untuk spesies yang diseslamatkan. Jika hal tersebut tidak dipertimbangkan, dikhawatirkan akan menimbulkan masalah terhadap manusia, sebagaimana terjadi di Sumatera.  Harimau Sumatera yang kehilangan habitatnya di hutan, merangsek ke pemukiman warga dan mencari mangsa.

Kesimpulan

Berdasarkan uraian di atas, kami berpendapat bahwa:

  1. Teknologi kloning dapat diterapkan sebatas pada kepentingan theurapeutik atau pengobatan. Dengan pertimbangan, kloning theurapeutik merupakan jalan yang lebih baik diantara metode pengobatan lain, seperti transplantasi organ.
  2. Penerapan kloning untuk tujuan produksi ternak memerlukan penelitian lebih lanjut mengenai dampak kesehatan dan lingkungan yang ditimbulkan sebelum dikenalkan ke masyarakat.
  3. Penerapan kloning untuk tujuan konservasi hewan dan reproduksi manusia ditolak secara tegas karena dapat menimbulkan kerugian besar bagi manusia, baik dari segi material maupun psikososial.

———

Tinjauan Lebih Lanjut:

4 Basic Moral Principles

Cloning Facts Sheet

Primer on Ethics and Human Cloning

Tinggalkan komentar

Belum ada komentar.

Comments RSS TrackBack Identifier URI

Berikan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Ikuti

Get every new post delivered to your Inbox.