Cintaku pada Cikko

Suatu saat aku pernah diberi tugas oleh asisten untuk miara cicak di kos. Sebenarnya cicak itu model praktikum biologi, tepatnya tentang regenerasi. Itu lho tentang tumbuhnya kembali jaringan tubuh yang dah rusak/hilang! Sebelumnya, di Lab ekor cicak itu dipotong beramai-ramai dengan menggunakan cutter. “AAAuuuu!!!” gitu kali ya jerit si cicak.

Nah…karena regenerasi ekor cicak rada lama, akhirnya cicak itu pun nginep di kostan ku bermalam-malam. Bayangin deh, 10 hari!! Dan sebagai calon soulmate, kukasih dia nama Cikko. Duille, itu cicak kesenengan. Tapii dari sinilah cerita dimulai.

Di kosan, si Cikko aku tempatkan dalam botol bekas air mineral X (Ga boleh sebut merk Aqua lho ya…Uppz!). Karena dilandasi rasa perikehewanan yang tinggi, diriku sering memberi makan tu cicak dengan makanan yang aku suka. Aku makan crackers, tu cicak juga makan (bubuk) crackers. Aku makan nasi, tu cicak juga ngunyah nasi. Ga banyak sih, palingan sebutir dua butir. Sebenernya asisten bilang selama pemeliharaan cicak itu mustinya dikasih makan remah-remah atau nasi doang. Tapi berhubung daku solider akhirnya ku kasih juga dia makanan-makanan yang (kata kita sihh) ENAK.

But, suatu malam yang tiada terduga terjadi. Tu cicak dieem ja. “kenapa c kamu, Cikko? Lagi mogok makan ya?” gitu tanyaku. “Di botol kesempitan kali, An!!” temen kost ku yang juga mahasiswa biologi nyaut. “Masya Alloh kirain tu cicak yang jawab”. Aku amatin si Cikko. Ku angkat botolnya dan ku amatin seluruh tubuhnya. Saat itu kulitnya mulai kisut. Kentara sekali kalo si Cikko mulai rada kurusan. Duh Cikko kamu kenapa??? Dan aku pun sedih.

Beberapa hari kemudian, atas saran si Nay_temen kostan ku sesama anak biologi, aku pindahkan si Cikko ke dalam bekas kotak sepatu. Tiap sisinya aku lubangi. Biar semriwing dan adem gitu, kan ga perlu pasang AC jadinya, he…3x. Sebagai jaga-jaga kalo malam laper, dalam kotak itu aku taburi serpihan crakcers dan sedikit air yang diletakan dalam potongan botol air mineral. Siapa tau setelah makan si Cikko juga haus. Ya kan? Setelah itu aku pun pergi tidur dengan tenang. “Gud Nite Cikko”

Paginya, saat akan pergi ke kamar mandi, kulihat kawanan semut sudah berkerumun di sekitar “rumah” Cikko. Aku pun segera nengokin soulmate “Cikko”. Ketika kubuka tutup kotak sepatu perlahan-lahan, barisan semut yang sebagian mengerumun di sekitarnya pun menyeruak dari dalam!

“Ciik….Kko” kataku perlahan. Tanpa terasa butiran bening menetes dari mataku.

Kali ini soulmate-ku sudah tak bergerak lagi. Cikko ku sayang sudah ga bisa dengerin suaraku lagi. Tubuhnya penuh dirongrong semut merah. Bahkan kulit di beberapa bagian tubuhnya tersibak dan penuh bekas gigitan.

Aku tidak bisa melakukan apa-apa lagi untuk soulmate-ku. Terbayang serpihan crackes yang kutaburkan semalam pada tubuh Cikko. Mungkin semalaman Cikko mengerang kesakitan ….

“Oohh Cikko”. Hatiku menyesak, sementara mataku semakin mengabut. Baru kusadari, ternyata untuk mencintai hewan kecil pun dibutuhkan ilmu yang memadai.

Iklan

Tinggalkan komentar

Belum ada komentar.

Comments RSS TrackBack Identifier URI

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s