Sebuah Renungan (part 1)

Kita Tidak Harus Menunggu Semuanya Terjelaskan Dengan Logika Untuk Tunduk Pada Aturan Allah.

Karena Ketika Semuanya Sudah Terjangkau Oleh Akal, Belum Tentu Kita Masih Memiliki Kesempatan untuk Mengimaninya.

***

Apakah kamu termasuk orang yang hanya akan tunduk pada Allah jika segalanya telah terjelaskan secara ilmiah?

Bayangkan jika kamu adalah umat islam yang hidup di masa Rasulullah Saw. Ketika Rasulullah datang padamu dan menjelaskan bahwa ia baru saja menempuh perjalanan ribuan kilometer dalam semalam ke masjidil aqsa, kemudian ke sidratul muntaha.

Apakah kamu akan mempercayainya?

Tidak?

Tapi Abu Bakr mempercayainya tanpa banyak tanya.

Bayangkan jika kamu adalah orang yang hidup di zaman Rasulullah Saw saat beliau menyampaikan bahwa bumi dan bulan beredar pada garis edarnya  masing-masing.

Apakah kamu akan mempercayainya?

Orang-orang yang tak beriman saat itu menyebut Rasulullah telah ngelantur.

Tetapi ilmu yang berkembang ratusan tahun kemudian membenarkan ucapan seorang ‘ummi (tak bisa baca tulis) yang telah mereka nilai ngelantur.

Bayangkan jika kamu adalah seorang wanita yang hidup di saat pelecehan terhadap wanita begitu maraknya; lalu seseorang datang untuk memuliakan wanita; memintamu menutup aurat.

Apakah kamu akan menaatinya?

Tidak?

Tetapi muslimah di zaman Rasulullah Saw langsung menyambar kain apa saja yang ada di dekatnya untuk menutup aurat mereka.

Jika kita adalah mereka, sungguh jauh jarak masa hidup kita dengan penjelasan ilmiah untuk membuat kita beriman. Jika kita adalah mereka, telah sampai kita pada Tuhan kita sebelum sempat mengimani-Nya.

Mereka yang hidup di masa Rasulullah Saw adalah orang-orang cerdas yang mampu berdagang lintas benua, mencipta baju perang dari besi, dan membaca rasi bintang sebagai penunjuk jalan. Mereka yang dikatai jahil (Bahasa Arab: bodoh) oleh Rasulullah bukanlah orang yang tidak sanggup baca dan tulis. Bahkan mereka adalah para penyair yang mahir.

Tetapi mereka tetap memilih cara hidup yang salah; memuja berhala, mengundi nasib, memperlakukan wanita sebagai benda, membunuh bayi-bayi tak berdosa, menilai harkat manusia berdasarkan ras,…..

Semua ke’bodohan’ tersebut masih ada hingga kini dengan segala bentuk barunya.

Haruskah kita sama seperti mereka yang disebut umat JAHIL (bodoh); meski ayat Al-Quran telah lunas turun ke bumi; meski Rasul telah contohkan berjuta kali? Hingga azab nyaris turun menghabisi mereka.

Tetapi Rasul hingga akhir hayatnya memohon pada Allah SWT, “Umatku…umatku” . Ia yang selalu dinafikan ajarannya, ia yang selalu dinilai ngawur ucapannya, ia yang  tak lelah berjuang menebar rahmat islam, masih sempat menitipkan umatnya pada pesan terakhirnya.

Masihkah kita perlu menunda waktu untuk beriman, hanya karena semuanya belum terjelaskan dengan logika dan ilmu pengetahuan?

Masihkah kita perlu menunda waktu untuk tunduk pada ajarannya, hanya karena kita belum mampu memahaminya?

Masihkan kita perlu meragukan isi Al-quran, setelah Allah menggaransi kemurnian selamanya?

Saatnya untuk memutuskan.

Di dunia ini hidup kita hanya sekali. Hanya sekali.

Wallahu’alam.

Iklan

Tinggalkan komentar

Belum ada komentar.

Comments RSS TrackBack Identifier URI

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s