Catatan KKN (part 1)

Saya tidak tau harus seperti apa terhadap  KKN ini. Kalo saya bilang bermanfaat…ya tentu saja bermanfaat. Setidaknya  ada banyak ilmu tentang kehidupan yang saya kecap secara langsung. Nyata. bukan sekedar “katanya, katanya” lagi.
Tetapi, manfaat itu datang bersama-sama dg ujian yang (menurut saya) cukup berat. Ditempatkan  di tengah-tengah masyarakat pedesaan bukan hal mudah ternyata. Awalnya  terbayang orang-orang yang polos, senang membantu, dan ramah.
Tapi, kenyataan berkata lain.

Ada banyak ujian yang menuntut banyak kesabaran dan ikhtiar yang kuat. Sungguh, jika bukan karena ingat kewajiban, sudah kutinggalkan tugas ini. Ujian bermula dari mengumpulkan warga belajar (WB), yaitu orang yg dinilai buta aksara sebagai sasaran KKN program Pemberantasan Buta Aksara.

Kami,tiap2 kelompok KKN, dikenai tugas untuk membina minimal 20 WB. Sekilas tampak sedikit bukan? Tapi kerja di lapangan membuktikan hal tersebut betul-betul rumit. Ada benturan dengan organisasi masyarakat setempat yang juga melaksanakan program serupa; ada tokoh masyarakat yang berupaya mengambil kesempatan dalam kesempitan; ada pula perihal warga yang secara umum amat statis dan anti perubahan.
Semua menjadi tantangan yang sulit ditangani. Kami perlu memeras otak, memasang strategi agar tak dikira merebut WB yg sudah didaftar lembaga masyarakt setempat; harus pandai bertaktik menghindari jeratan “tokoh” yang memiliki kuasa untuk pengaruhi warga; serta membujuk warga berkali-kali agar mau datang untuk belajar. Berbagai cara dilakukan. Mulai dari mendatangi tiap rumah, hingga sosialisasi di acara-acara dasawisma dan sejenisnya.Dusun ke dusun pun kami sambangi.
Kadang berbuah sambutan. Tak jarang sikap apatis serta tak acuh yang ditampakan warga.
rupanya, penipuan dari oknum tak bertanggung jawab membuat mereka trauma dengan orang asing.

Hasilnya, beberapa warga dapat kami bujuk untuk ikut belajar.
Jumlahnya?
Masih jauh dari target.

Tak mempan dengan hal tersebut, kami pun mengumpan dengan berbagai keterampilan sederhana. WB yang datang tetap saja sedikit, bahkan hingga pembelajaran menginjak hari ke-21, yang berarti separuh jalan dari waktu yg ditentukan.
Kami mencoba bersabar menjalani ini. Mengalami ini, jujur saja, aku seperti merasakan perasaan Bu Mus dan ke sembilan muridnya yang menanti murid ke10.

Hhh…ya Rabb, tak tahukah mereka pentingnya tulis dan baca?
Baru kusadari kini.
Negriku memprihatinkan sekali.
Kawan, cobalah bermain k pelosok Desa.
Temukan sebenar-benar tantangan perjuangan

==Purbalingga, 09 Agustus 2009 jam 18:20==

Iklan

Tinggalkan komentar

Belum ada komentar.

Comments RSS TrackBack Identifier URI

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s