Pilihan Hidup

Pernahkah kamu merasa ‘terdampar’ dalam suatu kondisi yang tidak kamu harapkan?? Salah masuk jurusan kuliah, misalnya?? Saya ingin sekali berbagi cerita tentang urusan ini. Tentang sebuah penolakan terhadap takdir yang Ia tetapkan untuk kita. Sumber cerita sebagian berasal dari pengalaman beberapa orang yang pernah berbagi dengan penulis, sebagian kecil lainnya ditambahkan untuk memperkuat pesan dalam cerita.

Seorang maba (mahassiwa baru) telah menghabiskan tiga kali kesempatan dalam SPMB untuk mendapatkan kesempatan kuliah di tempat yang ia harapkan. Baginya tak mengapa harus menunda masa studi hingga tiga tahun, asalkan jurusan impiannya itu bisa ia masuki. Tapi sayang, di kesempatan ketiganya pun ia ‘gagal’ di pilihan pertama dan kedua. Dan untuk kesekian kalinya ia dipaksa untuk memiliih alternatif ketiga dari jurusan yang talah ia pilih saat UJIAN SPMB.
Hari demi hari di kampus barunya ia lalui tanpa ‘RUH’. Ia tak bernar-benar menyadari apa saja yang telah ia lewati pada setiap aktivitas studinya. Yang ia tahu ia merasa bahwa Allah telah keliru memberinya takdir. Walhasil, IPK jeblok, penampilan suram (maklum jarang senyum sihh), dan kurva ibadah harian melandai….Ckccckck kasian sekali.
Di kemudian hari, saat ia mencoba bangkit, satu per satu hikmah yang selama ini tertutup dari mata batinnya mengemuka. Ia baru saja mengetahui bahwa jurusannya itu ternyata adalah yang terbaik di bidangnya di tingkat nasional. Semburat kebanggaan muncul dalam dadanya. Tak cukup di situ, Allah memberitahukan lagi kebesaran-Nya. Pada tahun ke dua kuliahnya, ia dipertemukan dengan sebuah komunitas yang telah lama ia cari. Dan itu sekali lagi ia temukan di tempat yang awalnya ia rutuki mati-matian. Dari komunitas itu, ia mendapat banyak kesempatan untuk semakin menggali potensi yang sungguh selama ini tidak ia sadari. Pada tahun ketiga kulihanya, the miracle itu terjadi lagi. Sebuah tawaran beasiswa menjadi research student ia terima dari sebuah Universitas di Jepang. Awal yang bagus meskipun pada akhirnya ia harus rela menunda impian tersebut. Hmmm…sebaik-baik rencana kita jauh lebih baik rencana Allah, kan??

Di lain tempat, seorang siswa SMA yang baru saja lulus merasa girang bukan kepalang karena akhirnya ia bisa masuk jurusan yang bonafid sesuai harapannya selama ini. Yaa..meski untuk impiannya itu ia harus keluar banyak dana. (Tentu saja, karena di setiap impian besar, selalu ada pengorbanan yang harus kita bayarkan). Tapi, masalahnya ia sama sekali tidak cocok dengan jurusan tersebut. Bakat dan minatnya sama sekali bukan pada bidang itu. Hasil psikotest menunjukan bahwa ia adalah lebih cocok menjadi tekenisi, dan rendah sekali skor yang mendukung bidang-bidang yang membutuhkan kemampuan berinteraksi sosial dan minat pada mahluk hidup.
Pada semester awal masa studinya ia mulai merasa kewalahan. Tugas-tugas yang datang beriringan tak memberinya kesempatan sedikitpun untuk menekuni hobi lamanya. Ia mencoba melihat sekeliling. “Owhh..teman-temanku juga sama sibuknya”, ia mencoba meyakinkan diri.
Masa-masa berikutnya, kesibukan kampus semakin menggila. Ia tak hanya harus mengerjakan paper dan kuliah di ruang kelas hingga sore, tapi juga praktikum hingga malam. Bahkan terkadang, saat mahasiswa jurusan lain mendapat libur HARI BESAR yang panjang, ia harus rela hanya mendapat jatah tiga hari saja. Ia merasa sungguh-sungguh kewalahan. Bukan karena ia tak mau bekerja keras, tapi karena di saat-saat itulah ia semakin sadar bahwa belakangan ini ia merasa bukan dirinya!! Bakat dan minatnya sama sekali tak mendukung aktivitas kampus di jurusan impiannya. Entah kenapa, mengotak-atik benda elektronik yang ada di kosnya jauh lebih menyenangkan daripada berlama-lama di Laboratorium bersama kadafer (jasad manusia yang diawetkan, pen). Di tahun kedua masa studinya, ia memutuskan untuk pindah jurusan dan mengikuti ujian masuk universitas untuk jurusan yang lain.

Hmmm…sebuah pilihan hidup kadang tak mudah untuk kita ambil. Seorang sahabat berkata pada saya, ‘Libatkanlah Allah di setiap keputusan yang kamu ambil’. Tentu saja, karena DIA lebih tahu dari kita.
Jika kita mau jujur pada hati kita pasti adaaaa saja hikmah yang Ia simpan untuk kita. Kisah pertama memberikan gambaran bahwa kondisi yang kita nilai kurang menguntungkan bisa jadi menjadi SUMBER KEBAHAGIAAN yang tak pernah kita duga. Di sisi lain, kondisi yang kita nilai PASTI BAGUS belum tentu baik untuk kita. Jalanilah takdirmu karena Allah telah mempercayakan itu untukmu. Percayalah tak ada yang lebih baik daripada rela menjalaninya. Pada sebuah kondisi tak sesuai dengan keinginan kita, hanya tersedia dua pilihan:
TETAP JALANI atau TETAP KECEWA!!

–Catatan:
untuk mahasiswa kedokteran, saya mohon izin ya untuk menggunakan contoh kasus ke dua. Tidak bermaksud su’udzan. Tapi sekedar untuk bahan renunngan aja. Saya yakin, teman-teman mengerti–

Iklan

Tinggalkan komentar

Belum ada komentar.

Comments RSS TrackBack Identifier URI

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s