KAJIAN BIOETIKA: KONDISI ORANG UTAN INDONESIA

Sekilas tentang Orang utan

Orang utan merupakan mamalia langka khas Indonesia yang hidup dan beradaptasi di hutan dataran rendah. Orang utan merupakan bagian dari kekayaan biodiversitas dunia. Kedua spesies orang utan, yakni orang utan Sumatera dan orang utan Kalimantan merupakan 2 dari 6 spesies kera besar yang hidup di dunia. Kehidupannya yang mirip dengan manusia, menjadikan orang utan sebagai mamalia penghuni pohon terberat di dunia.

Tempat hidup alami orang utan adalah tajuk-tajuk pohon yang tinggi. Hampir seluruh hidupnya dihabiskan di tempat tersebut. Orang utan hidup dengan membuat sarang dari satu tajuk  ke tajuk pohon lainnya. Ia makan buah-buahan, dedaunan, kulit kayu, dan serangga. Semenjak bayi, orang utan diajarkan induknya keterampilan sederhana untuk bertahan hidup di hutan. Keterampilan tersebut meliputi penggunaan alat-alat sederhana dan cara hidup di pohon.

Akan tetapi, kelestarian orang utan kini terancam punah. Pangkal penyebabnya adalah kerusakan hutan. Manusia mengkonversi hutan menjadi kebun-kebun kelapa sawit dan menanami lahan yang tersisa dengan  pohon berkayu yang cepat tumbuh, seperti Eucalyptus sp. dan Acacia sp. Menghilangnya tajuk-tajuk yang tinggi berarti menghilangkan habitat asli orang utan. Orang utan yang tidak sanggup beradaptasi akan mati atau terusir. Demi mempertahankan hidupnya, orang utan terpaksa mencari makanan ke kebun-kebun di tepian hutan. Hal tersebut menimbulkan konflik antara orang utan dengan para petani dan pekerja perkebunan. Orang utan yang tertangkap akan segera ditembak di tempat.

Kehidupan orang utan di antara tajuk pohon yang tersisa masih menyisakan ancaman yang sangat tinggi. Para pemburu menembak mati induk orang utan yang sedang mengasuh bayinya. Bayi orang utan piatu yang kehilangan induknya, diambil dan diperdagangkan secara ilegal. Umumnya, bayi orang utan dipelihara lalu ditelantarkan setelah tumbuh menjadi individu dewasa yang pemarah. Sebagian lainnya, dieksploitasi demi kesenangan manusia. Tercatat, jumlah orang utan yang dimiliki secara ilegal meningkat per tahunnya. Hal ini menunjukan, keberadaan orang utan sebagai simbol kelestarian hutan Indonesia diambang kepunahan. Jika kerusakan hutan dibiarkan terus menerus, orang utan akan punah bersama musnahnya hutan alam Indonesia.

ANALISIS

-Issue etika ditinjau dari tiga prinsip/ teori antropocentrism, biocentrism, dan ecocentrism-

Antroposentrisme:

Pencegahan konversi hutan dataran rendah sulit direalisasikan karena terbentur berbagai kepentingan. Keberadaan perkebunan kelapa sawit berpotensi mendatangkan devisa yang cukup tinggi bagi negara. Bagi investor, tingginya tingkat produksi kelapa sawit berarti keuntungan yang besar. Sedangkan bagi sebagian masyarakat Indonesia, dibukanya perkebunan kelapa sawit dapat memperluas lapangan kerja.

Namun demikian, jika lahan hutan dataran rendah terus menerus dialih fungsikan, maka kerugian yang ditimbulkannya pun bisa sangat besar. Perubahan fungsi lahan di hutan telah menimbulkan efek domino bagi banyak pihak terkait, tak terkecuali manusia. Saat terjadi kerusakan hutan, para penduduk tepi hutan menjadi pihak pertama yang merasakan dampak buruknya. Penduduk tepi hutan sebagai pihak yang tidak ikut merasakan keuntungan langsung, berupa kesempatan kerja, dari perkebunan kelapa sawit harus menerima kerugian yang banyak.

Setelah hutan rusak, sumber penghasilan mereka yang bergantung pada hasil hutan kian sulit dicari. Hutan yang rusak menyebabkan suhu udara yang kian meninggi serta persediaan air yang sedikit dan kotor. Para penduduk di tepi hutan tak dapat menanami tanah-tanah yang berubah gersang akibat terpaan sinar matahari yang tak terhalang dedaunan. Saat musim penghujan pasokan air menjadi tak terkendali. Debit air yang sangat tinggi menimbulkan banjir yang mampu menyapu pemukiman warga.

Biosentrisme

Orang utan, sebagaimana manusia dan makhluk hidup lainnya ber’hak’ untuk hidup secara aman dan nyaman sesuai sifat alaminya. Tetapi, penebangan hutan, perburuan liar, serta perdagangan hewan secara ilegal telah merampas hak orang utan untuk menjalani kehidupan normalnya. Orang utan yang seharusnya hidup pada tajuk-tajuk tinggi di hutan dataran rendah telah kehilangan habitat aslinya. Sumber makanan orang utan berupa buah-buahan, dedaunan, kulit kayu, dan serangga menghilang bersamaan dengan berubahnya kondisi hutan. Orang utan berkompetisi dengan manusia untuk mendapatkan makanan dari hasil kebun. Kehidupannya semakin terancam ketika tertangkap oleh petani dan para pekerja perkebunan. Petani atau pekerja hutan yang sama-sama berkepentingan dengan hasil perkebunan akan langsung menembak mati orang utan.

Pihak yang turut andil terhadap terbunuhnya orang utan tidak hanya para petani dan pekerja perkebunan saja. Para pemburu liar pun turut andil. Para pemburu membunuh induk orang utan yang sedang mengasuh bayinya. Bayi orang utan piatu yang terpisah dari induknya dimungkinkan mengalami tekanan psikis. Setelah tumbuh menjadi individu dewasa yang pemarah, orang utan yang dipelihara manusia akhirnya ditelantarkan. Lebih dari itu, kemiripan karakter yang dimiliki orang utan membuatnya dieksploitasi untuk  memenuhi kesenangan manusia.

Berdasarkan prinsip biosentrisme, orang utan selayaknya dibiarkan hidup di habitat alaminya di (tajuk-tajuk pohon yang tinggi) hutan dan dibiarkan hidup dengan caranya sendiri. Akan tetapi, pengembalian orang utan ke habitat aslinya tidak dapat dilakukan jika keberadaan hutan dataran rendah tidak lagi ada. Selain itu, orang utan yang hidup di luar habitat aslinya dalam waktu lama berpotensi kehilangan sifat-sifat alaminya. Oleh karena itu, perlu proses karantina selain penyedian tempat baru yang sesuai dengan habitat aslinya.

Ekosentrisme:

Secara ekologis, kerusakan hutan berdampak pada perubahan suhu lingkungan. Sinar matahari yang tidak lagi tertahan oleh rimbun dedaunan mengubah suhu lingkungan jauh lebih tinggi. Lahan-lahan yang telah dibuka pun menjadi kering dan tandus. Selain itu, menghilangnya tajuk-tajuk yang tinggi juga mengancam persediaan air bersih. Sistem perakaran yang biasanya menyaring, menyimpan, dan mengatur sirkulasi air ke lingkungan, tak lagi ada. Air dilepaskan secara berlebihan pada musim penghujan dan menimbulkan banjir bandang. Saat musim kemarau, sungai dan parit hanya menyediakan sedikit air yang kotor.

Jika kerusakan hutan berhasil ditangani, beragam flora dan fauna langka yang hidup di dalamnya dapat terhindarkan dari ancaman kepunahan. Hutan yang lestari juga dapat mengatur persediaan air yang dibutuhkan oleh makhluk hidup. Sistem perakaran dari tajuk-tajuk tinggi menyimpan air yang jernih dan melepasnya ke alam sedikit demi sedikit. Dedaunan rimbun dari tajuk-tajuk tersebut membentuk kanopi yang sanggup menghasilkan udara bersih bagi semua makhluk hidup. Selain itu, kehadiran kanopi membuat suhu udara di sekitar hutan menjadi sejuk. Tanah yang dinaunginya pun tetap lembab.

Iklan

1 Komentar

  1. waaahhh… kebetulan aq dpt tgs ini mba..hehehehe
    lumayan buat gambaran….

    smangat..


Comments RSS TrackBack Identifier URI

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s