Kado sederhana yang tertunda

Tiba-tiba bayangan wajah kedua orang yang sangat aku sayangi itu muncul dihadapanku. Aku melihat senyum mereka yang tulus dan kalimat-kalimat penuh pengertian, “tak apa Nak, yang penting kamu sudah berusaha”.

Tetapi aku terlalu sensitif mengenali sorot mata yang menyembur dari keduanya. Bahwa sebenarnya mereka berharap aku bisa melakukan hal terbaik seperti yang mereka dambakan. Hingga mereka bisa dengan bangga menceritakan tentang kesuksesan anaknya pada semua orang. Aku tahu mereka, kedua orangtuaku itu, sebetulnya ingin sekali bercerita tentang senangnya menghadiri wisuda anaknya, atau berkata pada tetangga bahwa anaknya sudah hidup mapan. Tetapi kenyataan yang mereka terima dari anaknya justru mengharuskan mereka lebih arif untuk membesarkan hati anaknya.

‘Mah…Pa…sampai kapan kalian akan selalu menekan perasaan demi anakmu?’

Keinginan mereka untuk melihat anaknya segera menyabet gelar sarjana memang bukanlah hal muluk. Terlebih perjuangan mereka untuk menyekolahkan anak-anaknya hingga jenjang perguruan tinggi juga bukan hal yang mudah. Membuat kedua permata hatinya mengenyam pendidikan sekolah berarti menekan rasa malu untuk meminjam uang sana sini. Memperjuangkan pendidikan untuk buah hatinya seringkali berarti mengurangi jatah makan dalam satu hari. Ya Rabbi, mereka hanyalah manusia biasa yang berharap anaknya bisa hidup mapan. Lalu kemapanan itu mewakili lisannya untuk berkata pada dunia bahwa mereka telah berhasi sebagai orangtua.

Tetapi, Tuhanku….

aku bahkan belum bisa memberikan yang terbaik untuk dua orang yang aku sayangi itu. Enam bulan di tahun ke empat hampir habis tanpa memberikan hasil yang signifikan. Aku seperti bermain-main dengan waktu dan menyebabkan kedua orangtuaku mengeluarkan lebih banyak kesabaran.

Tuhanku,

bagaimana caraku untuk menyampaikan pada keduanya bahwa aku telah sangat bersyukur memiliki keduanya? Bahwa aku sangat ingin membuatnya bahagia. Tetapi…waktu, sekali lagi waktu telah menjadi jalan ujianku akhir-akhir ini dari-Mu. Engkau begitu ingin melihat kesungguhanku menekuni bidang yang aku cintai….

Tuhanku,

telah jauh kutekadkan bahwa aku ingin menutup satu langkah pencarian ilmu ini dengan tulisan terbaik, dengan penemuan terbaik, dan dengan apa yang sungguh aku tekuni.

Tetapi hari ini, Kau berkata padaku melalui lisan makhluk-Mu, “Pilihlah antara waktu dan tekad besarmu!”

“Apakah kau menginginkan segera selesai dengan sesuatu yang bahkan nyaris tak memberikan informasi baru?”

“Ataukah kau benar-benar jujur menyampaikan pada-Ku bahwa kau ingin menekuni bidangmu itu? Lalu kau tetap ikhlas dan sabar menempuhnya dalam waktu yang lebih panjang”

Duhai Rabb ku Yang Maha Penyayang,

Engkau sungguh lebih tahu kemampuan hamba-Mu ini. Engkau tahu sejauh mana ujian yang mampu aku lewati.

Duhai Penjagaku…

mohon ambilah segala beban yang tak sanggup aku untuk memikulnya. Mohon kuatkan aku menjalani segala bentuk ujian dari-Mu.

Tuhanku, berkahnya ilmu mungkin tidak selalu hadir dengan besarnya penilaian kesuksesan di hadapan manusia. Tetapi, bisa menyelesaikan studi dengan cara yang luar biasa adalah hal sederhana untuk membuat mereka bahagia.

Tuhanku, jikalah bukan dengan cara ini Kau ingin membuat keduanya bahagia, mohon mudahkan jalan lainnya. Lalu tetapkanlah pula kesabaran untukku. Tetapkanlah kesabaran menyertaiku…

Teruntuk dua orang teristimewa dalam hidupku:

“Ma, Pa, maafkan anakmu belum bisa wisuda di akhir tahun ke empat ini”

Iklan

1 Komentar

  1. cepet-cepet wisuda ya nak…hee……


Comments RSS TrackBack Identifier URI

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s