Antara Skripsi dan Wisuda Part I (Berbagai kemudahan itu…datang silih berganti)

Usai sudah masa penelitian yang melelahkan. Saatnya meneruskan perjuangan di fase skripsi dan menjalani ‘eksekusi’ para dosen penguji. (Waaaaa…kejam banget bahasanya). Ujian datang dan pergi, ternyata. Hehehe..

Well, sebagaimana biasanya saya akan share tentang pengalaman pribadi seputar kehidupan seorang mahasiswa. Suka maupun duka. Yahh kita tidak tahu kan, kapan kita jadi mahasiswa lagi. Setelah lulus, masa-masa perjuangan yang berdarah-darah ini mungkin akan sangat  saya rindukan. Jadi, mari kita ingat kembali catatan perjalanan semasa menyandang status ‘mahasiswa’.

Desember 2010 menjadi saat-saat yang mendebarkan bagi saya selaku mahasiswa SUPER SENIOR (baca: angkatan tua). Pasalnya saya sudah mengambil 9 semester untuk menyabet gelar sarjana, dan saat itu berada di 3 bulan terakhir. Alamak…bentar lagi. Sementara saat itu, saya masih kekurangan satu tahap penelitian lagi. Kapan dong saya lulus dan wisudaaaaaa????

(#bayangin deh ekspresi wajah  Machaulay Culckin ‘Home Alone’ waktu liat penjahat. Dua tangan megangin pipi, sambil teriak ‘Aaaaaaargh’! LEBAY!!)

Belum lagi ditambah rekan-rekan penelitian dari universitas lain yang pada ngacir duluan ngurusin skripsi dan pendaftaran wisuda. Padahal mereka datang belakangan daripada saya. Paten deh, saya memegang rekor mahasiswa penelitian dengan tingkat ‘kebetahan’ tertinggi di Lab tersebut. “S.E.P.U.L.U.H.    B.U.L.A.N  sodara-sodara!”. Yaa…sudahlah T-T hiks..hikss.

Akhirnya, minggu terakhir Desember 2010 saya berhasil mengakhiri ‘kerja rodi’ di Lab dan menggondol data-data penelitian untuk disusun menjadi skripsi. Fiuhhhh…akhirnya!! Senyum mulai terkembang. Hiks..hikss…(shreeeeeeet….), terharu.

Mengawali bulan Januari 2011, tidak diduga Allah SWT memberikan banyak kemudahan kepada saya.   Di antara sekian banyak kecemasan yang menghantui, bersama itu DIA bukakan banyak pintu kemudahan untuk saya.

  1. Ketika si Kompi mati suri, Allah gantikan (lewat tangan seseorang) dengan yang lebih baik dan mobile. Worthy banget deh…Gag tahu kayak gimana jadinya kalau saya gag megang komputer buat nge-draf.
  2. Sesampai di kampus, saya yang masih kaku dengan suasanya bertemu dengan reka-rekan senasib yang juga mengejar wisuda bulan Maret. Mereka banyak membagi informasi dan tips penting untuk saya. Mulai dari mengumpulkan segala macam persyaratan hingga strateginya. Wuihhhh….kalian berjasa sekali kawan-kawan.
  3. Ketika saya membutuhkan tanda kehadiran di 8 seminar hasil (baca: semhas), Allah hadirkan saya pada musim semhas. Alhamdulillah…banyak rekan yang semhas dan dalam waktu yang yang sama saya dapat menghadirinya.
  4. Wajib lulus TOEFL-LIKE dengan skor minimal tertentu. Ujian TOEFL-LIKE hanya dilakukan sebulan sekali tiap minggu ke dua. Beruntung, saya sudah stay di kampus lagi minggu pertama Januari. Jadi masih sempat ikut ujian yang Januari. Alhamdulillah…=) Tapi, saat itu masih ada yang bikin saya horror menghadapi TOEFL-LIKE yang diadakan pihak kampus. Sekali mahasiswa gagal dalam ujian pertama, ia diwajibkan mengikuti hingga tiga kali. Berarti, kalau saya gagal di ujian pertama, saya harus mengikutinya hingga lolos di ujian ke tiga di bulan Maret. Which is mean…gag bisa ngikut wisuda Maret. Haahhhh!!!?? Dan keajaiban pun terjadi. Meski skornya tak begitu bagus, saya lolos di ujian pertama. Horeeeee!!
  5. Saya tidak harus mem-print out draf skripsi untuk diperiksa Pembimbing (I dan II) sebagaimana rekan-rekan lainnya. Alhamdulillah…penghematan besar-besaran nih. Draf cukup saya setor via imel dan dikoreksi dengan beberapa masukan dari sensei. Selain itu, sesi bimbingan skripsi tidak terlalu lama, sehingga saya punya banyak waktu untuk duduk di hadapan monitor merevisi draf. Senangnyaaaaa =)
  6. Bisa nyepot (baca: hot spot-an) gratis di kampus tanpa lola. Coba hitung, berapa besar penghematan biaya dan waktu yang bisa saya lakukan? Waoow…amazing!! Saya berterimakasih kepada seorang teman dekat yang merelakan password nya untuk saya pakai selama pembuatan skripsi. Semoga kamu juga diberi kemudahan juga yah…(semangat!!)
  7. Di saat jurnal atau artikel ilmiah yang saya butuhkan ternyata berbayar dan tidak bisa didonlot sembarangan, jauh-jauh hari Allah telah perkenalkan kepada saya seorang teman yang sekolah nun jauh di negeri sebrang sana. Lewat dia lah saya dapat minta didonlotkan judul-judul jurnal yang PAS dengan pembahasan skripsi. Alhamdulillah…saya mendapat kemudahan menyusun argument untuk data penelitian.
  8. Support dari Mamah-Papa, keluarga, dan sahabat. Doa dan semangat kalian menyumbangkan energi yang sangat besar bagi saya.

Hmmm…saya tidak bisa terus menyebutkan berbagai pertolongan-Nya satu per satu. Bagi saya, semua ibarat keajaiban yang hadir serentak di saat logika seorang manusia seperti saya tak bisa menggapainya. Saya toh tidak tahu apakah kondisi ini akan mengantarkan saya pada wisuda bulan Maret atau tidak. Hanya Allah yang tahu. Saat ini, saya hanya ingin menikmati segala kejaiban yang Allah berikan tanpa harus menundanya hingga wisuda menjadi kenyataan.

NB: untuk semua pihak yang telah berjasa selama penyusunan skripsi hingga lulus dan wisuda nanti, kalian mungkin tidak tahu betapa berartinya ini untuk saya. Terimakasih banyak…

Allah SWT lebih tahu balasan yang paling tepat untuk itu.

Iklan

Kado sederhana yang tertunda

Tiba-tiba bayangan wajah kedua orang yang sangat aku sayangi itu muncul dihadapanku. Aku melihat senyum mereka yang tulus dan kalimat-kalimat penuh pengertian, “tak apa Nak, yang penting kamu sudah berusaha”.

Tetapi aku terlalu sensitif mengenali sorot mata yang menyembur dari keduanya. Bahwa sebenarnya mereka berharap aku bisa melakukan hal terbaik seperti yang mereka dambakan. Hingga mereka bisa dengan bangga menceritakan tentang kesuksesan anaknya pada semua orang. Aku tahu mereka, kedua orangtuaku itu, sebetulnya ingin sekali bercerita tentang senangnya menghadiri wisuda anaknya, atau berkata pada tetangga bahwa anaknya sudah hidup mapan. Tetapi kenyataan yang mereka terima dari anaknya justru mengharuskan mereka lebih arif untuk membesarkan hati anaknya.

‘Mah…Pa…sampai kapan kalian akan selalu menekan perasaan demi anakmu?’

Keinginan mereka untuk melihat anaknya segera menyabet gelar sarjana memang bukanlah hal muluk. Terlebih perjuangan mereka untuk menyekolahkan anak-anaknya hingga jenjang perguruan tinggi juga bukan hal yang mudah. Membuat kedua permata hatinya mengenyam pendidikan sekolah berarti menekan rasa malu untuk meminjam uang sana sini. Memperjuangkan pendidikan untuk buah hatinya seringkali berarti mengurangi jatah makan dalam satu hari. Ya Rabbi, mereka hanyalah manusia biasa yang berharap anaknya bisa hidup mapan. Lalu kemapanan itu mewakili lisannya untuk berkata pada dunia bahwa mereka telah berhasi sebagai orangtua.

Tetapi, Tuhanku….

aku bahkan belum bisa memberikan yang terbaik untuk dua orang yang aku sayangi itu. Enam bulan di tahun ke empat hampir habis tanpa memberikan hasil yang signifikan. Aku seperti bermain-main dengan waktu dan menyebabkan kedua orangtuaku mengeluarkan lebih banyak kesabaran.

Tuhanku,

bagaimana caraku untuk menyampaikan pada keduanya bahwa aku telah sangat bersyukur memiliki keduanya? Bahwa aku sangat ingin membuatnya bahagia. Tetapi…waktu, sekali lagi waktu telah menjadi jalan ujianku akhir-akhir ini dari-Mu. Engkau begitu ingin melihat kesungguhanku menekuni bidang yang aku cintai….

Tuhanku,

telah jauh kutekadkan bahwa aku ingin menutup satu langkah pencarian ilmu ini dengan tulisan terbaik, dengan penemuan terbaik, dan dengan apa yang sungguh aku tekuni.

Tetapi hari ini, Kau berkata padaku melalui lisan makhluk-Mu, “Pilihlah antara waktu dan tekad besarmu!”

“Apakah kau menginginkan segera selesai dengan sesuatu yang bahkan nyaris tak memberikan informasi baru?”

“Ataukah kau benar-benar jujur menyampaikan pada-Ku bahwa kau ingin menekuni bidangmu itu? Lalu kau tetap ikhlas dan sabar menempuhnya dalam waktu yang lebih panjang”

Duhai Rabb ku Yang Maha Penyayang,

Engkau sungguh lebih tahu kemampuan hamba-Mu ini. Engkau tahu sejauh mana ujian yang mampu aku lewati.

Duhai Penjagaku…

mohon ambilah segala beban yang tak sanggup aku untuk memikulnya. Mohon kuatkan aku menjalani segala bentuk ujian dari-Mu.

Tuhanku, berkahnya ilmu mungkin tidak selalu hadir dengan besarnya penilaian kesuksesan di hadapan manusia. Tetapi, bisa menyelesaikan studi dengan cara yang luar biasa adalah hal sederhana untuk membuat mereka bahagia.

Tuhanku, jikalah bukan dengan cara ini Kau ingin membuat keduanya bahagia, mohon mudahkan jalan lainnya. Lalu tetapkanlah pula kesabaran untukku. Tetapkanlah kesabaran menyertaiku…

Teruntuk dua orang teristimewa dalam hidupku:

“Ma, Pa, maafkan anakmu belum bisa wisuda di akhir tahun ke empat ini”

Antara realitas dan impian

Orang bilang saya ini terlalu idealis untuk mewujudkan impian. Well, sebenarnya saya gak begitu setuju juga dengan ‘gelar’ tersebut. Gak jelas tolak ukurnya. So, ta’ tulis aja di sini. Biar ada pandangan baru dari orang lain.
Ceritanya saya memang sudah menetapkan cita-cita jangka menengah untuk menempuh studi pascasarjana.
Kalo Allah memberi rejeki, minimal Magister. Tapi rupanya, hal sederhana itu membawa tantangan tersendiri. Salah satunya tentang penelitian strata 1.
Jujur saja, mata kuliah favorit saya biologi molekuler. Entah itu pada bakteri, virus, ataupun hewan.
Saya bermimpi suatu saat nanti bisa menjadi virolog (ahli virus). Oleh karena itu, sedini mungkin sy upayakan untuk berinteraksi dengan penelitian virologi. Termasuk dengan penelitian strata 1 (skripsi). Tentu saja dg tema yg lebih pas bagi mhsw biologi,yaitu aspek molekuler.
Demi impian tsb, sejak semester 4 sy mulai hunting info-info proyek penelitian viromol. Mulai dari proyek Lemlit pemerintah sampai Lemlit internal berbagai PTN. Q berpikir ini tindakan paling logis untuk menyelenggarakan penelitian viromol.
Kenapa? Karena dananya FANTASTIS!! Pakai dana pribadi gak bakalan KUAT.
Singkat cerita, sy pun melakukan korespondensi dengan para peneliti via email dan telpon. Hasilnya?
Berkali-kali ditolak dan satu kali diterima. Ceritanya, da harapan buat penelitian d semester 8.Wedehhh.=P.
Tapi jangan salah, ujian ‘n tantangan belum berenti sampe disitu!
Setelah ada secercah harapan untuk gabung di proyek penelitian, sy dapat ujian baru (Heghhh…kagak capek apa ya itu ujian deketin aq!).
Sy diberi tahu kalau proyek tersebut (kalo jadi didanai DIKTI) baru
mulai bulan september ’10 alias awal semester 9!
Itupun KALO JADI didanai DIKTI. kalo gak?
sang peneliti akan melakukan riset di luar negri. Yang berarti TANPA SAYA!!
Bayangkan sodara-sodara. Setelah nanti nunggu mpe semester 9, kalo batal apa jadinyaaa?
—–
Sy mulai berpikir, apakah ini tantangan yang tetep musti sy perjuangkan, atokah semacam warning dari Allah untuk menghindari impian tsb??
Sedih juga kalo musti ngelepas impian ini.
Tapi, sy gak mau memaksakan diri alias ga realistis.
Mudah-mudahan aja sy tergolong manusia yg optimis dan berhati lembut. Sehingga bisa merasakan indahnya takdir yg ditetapkan oleh-Nya.
Aaaaamiin.

Catatan KKN (part 3): masih tentang Kejujuran

Kejujuran itu tegak bersama dengan kesabaran dan kerja cerdas.

Belajar dari pengalaman di lapangan saat KKN, sebuah komitmen untuk hidup dalam kejujuran ternyata memerlukan perjuangan yang sangat besar.
Tidak hanya kesiapan mental untuk tampil ‘beda’ dengan orang-orang kebanyakan, tapi juga peluh, kerja keras yang disertai kecerdasan berkomunikasi, bahkan uang kita!
I’m swear!!
Kenapa hidup jujur itu perlu kerja keras?

Untuk mencapai target kerja yang tinggi, mahasiswa diuji untuk tak mudah menyerah apalagi berputus
asa dengan kondisi yang ada. *Karena, KKN yang disebut-sebut sebagai miniatur kehidupan ternyata tak mudah lho!*
Bersamaan dengan tekanan untuk mengejar target, umumnya mahasiswa juga dihadapkan pada sejumlah persoalan saat bermasyarakat.
Tekanan yang bertubi-tubi tersebut, jika tidak disikapi dengan arif dapat menurunkan semangat kerja di tempat KKN hingga mempengaruhi kekompakan tim. Pada akhirnya target yang sudah ditetapkan jadi terbengkalai.
Lalu apa hubungannya dengan kejujuran?
Saat kita merasa harapan telah pupus, biasannya KEJUJURAN dalam mengemban tugas dipertaruhkan!!
Disinilah kesabaran dan kerja keras turut andil.
Jika tak ingin komitmen hidup jujur kita tergadai, satu-satunya jalan keluar ialah tetap bersabar dalam berikhtiar/usaha
serta melakukan ikhtiar yang sungguh-sungguh.
Jika masih juga sulit, tokoh masyarakat dapat juga dilibatkan untuk menggerakan masyarakat agar mengikuti kegiatan yang kita selenggarakan.
Selain itu, perbanyak sedekah  *nah ini yang aq maksud kejujuran butuh uang* untuk mengundang pertolongan Allah.
InsyaAllah pertolongan dariNya segera datang.

Namun, jika sebelum tuntas ikhtiar ternyata kita telah berbuat tidak jujur, maka segera perbanyak istighfar, memohon ampun pada Allah,
LALU segera susun strategi untuk meminimalkan maksiat tersebut.
Sebaliknya, maksimalkan kerja di saat-saat terakhir kita KKN. Mudah-mudahan Allah SWT berkenan mengampuni kita *termasuk penulis. he5*.
Amiin.

Catatan KKN (part 2): tentang kejujuran

Kejujuran itu, Ya Rabbi…
bagiku seperti sholat malam bagi mereka yg senang berkhalwat denganMu,
seperti harta di tangan para penderma,
seperti puasa bagi mereka yang ahli puasa.

Kejujuran bagiku Ya Rabbi, adalah amal terindah yang ingin selalu aku jaga.

Yang dapat membuatku berbangga seperti berbangganya orang-orang yang membawa amal-amal sholat,zakat,dan puasa mereka..saat berhadapan denganMu.

Kejujuran bagiku Ya Rabbi,
seperti anak-anak di hati seorang ibu.
seperti ladang bagi para petani.
seperti ternak bagi para peternak.

Tetapi hari ini, kutemui diriku hilang sukma.
Kejujuran itu telah aku tukar demi berlembar-lembar kertas saja. Hatiku
pasrah melawan keadaan.

Menggadai kejujuran dari hidupku…
seperti seorang ibu yang dipisah dari anak-anaknya.
seperti petani yang terbakar habis ladangnya. seperti peternak yang mati seluruh ternaknya.

Bukan karna aku tak tahu…
bukan pula karna tak sadar.
Tapi aku harus memilih hajat orang lain yang ikut ditentukan oleh tindakanku.

Pun ini akibat tawazun yang tak dapat aku jaga,
akibat ikhtiar yang tidak maksimal,
akibat komunikasi yang tak terjalin dg benar.

Kini,
aku tak punya lagi muka di hadapanMu.
Aku tak mampu menjaga amal andalanku bersamaan dengan menjaga hak sodaraku.

Maafkan aku Ya Rabbi.

==Melewati satu bulan di tempat KKN==

JIKA BOLEH MEMILIH

Jika boleh memilih…
aku lebih suka untuk jatuh cinta pada lelaki yang menggenapkan agamaku saja!

Jika boleh memilih…
tak ingin aku berharap pada sesuatu yang tak pasti.
Tak ingin aku terjerembab semakin dalam karena perasaan.

Tapi ia begitu halus!
Ia menyusup di sela-sela hatiku…mengendap-endap.

Getaran di hati,
bisakah kita mengatur-atur nya?

Rabbi,
di malamMu yang suci ini
(mungkin) sudah saatnya aku kuatkan tekad untuk lebih pandai menata hati, memeliharanya agar tak menjadi ujian yang berat bagi diri…

(tazkiyatun nafs: untuk penyiapan moment teristimewa nanti).

Catatan KKN (part 1)

Saya tidak tau harus seperti apa terhadap  KKN ini. Kalo saya bilang bermanfaat…ya tentu saja bermanfaat. Setidaknya  ada banyak ilmu tentang kehidupan yang saya kecap secara langsung. Nyata. bukan sekedar “katanya, katanya” lagi.
Tetapi, manfaat itu datang bersama-sama dg ujian yang (menurut saya) cukup berat. Ditempatkan  di tengah-tengah masyarakat pedesaan bukan hal mudah ternyata. Awalnya  terbayang orang-orang yang polos, senang membantu, dan ramah.
Tapi, kenyataan berkata lain.

Ada banyak ujian yang menuntut banyak kesabaran dan ikhtiar yang kuat. Sungguh, jika bukan karena ingat kewajiban, sudah kutinggalkan tugas ini. Ujian bermula dari mengumpulkan warga belajar (WB), yaitu orang yg dinilai buta aksara sebagai sasaran KKN program Pemberantasan Buta Aksara.

Kami,tiap2 kelompok KKN, dikenai tugas untuk membina minimal 20 WB. Sekilas tampak sedikit bukan? Tapi kerja di lapangan membuktikan hal tersebut betul-betul rumit. Ada benturan dengan organisasi masyarakat setempat yang juga melaksanakan program serupa; ada tokoh masyarakat yang berupaya mengambil kesempatan dalam kesempitan; ada pula perihal warga yang secara umum amat statis dan anti perubahan.
Semua menjadi tantangan yang sulit ditangani. Kami perlu memeras otak, memasang strategi agar tak dikira merebut WB yg sudah didaftar lembaga masyarakt setempat; harus pandai bertaktik menghindari jeratan “tokoh” yang memiliki kuasa untuk pengaruhi warga; serta membujuk warga berkali-kali agar mau datang untuk belajar. Berbagai cara dilakukan. Mulai dari mendatangi tiap rumah, hingga sosialisasi di acara-acara dasawisma dan sejenisnya.Dusun ke dusun pun kami sambangi.
Kadang berbuah sambutan. Tak jarang sikap apatis serta tak acuh yang ditampakan warga.
rupanya, penipuan dari oknum tak bertanggung jawab membuat mereka trauma dengan orang asing.

Baca lebih lanjut