Bersegera atau Tergesa-gesa menikah?

Sering kita bingung, apa yang membedakan orang yang bersegera menikah dengan yang tergesa-gesa? Terlebih jika usia kita sudah tergolong ‘pantas’ untuk menikah.  Berikut ini adalah pemaparan dari Ust. Hatta Syamsudin yang saya tulis ulang dari seabuh forum kajian pranikah di Facebook.

Niat Menikah dinilai Tergesa-gesa, jika:

Sebenarnya belum memenuhi persiapan2 yang seharusnya ada, seperti keilmuan, finansial, dan mental misalnya. tapi kemudian memaksakan diri untuk segera menikah,

sementara bersegera menikah berarti diri kita mengarah pada sudah adanya persiapan, tapi masih terhalangi keraguan-raguan dan beberapa permasalahan lain, perlu untuk dikuatkan dalam melangkah.

Iklan

Sudah tibakah saatnya kita menikah?

Apakah saat ini sudah tepat saatnya untuk menikah? Ataukah barangkali masih sekedar keinginan-keinginan sesaat disaat hati merasa sepi. Agar kita bisa lebih arif bahwasanya tidak setiap keinginan itu harus dipaksakan, tidak setiap hasrat harus segera dipenuhi. Semua ada aturannya. Semua ada batasan-batasannya.

Pertama : Hukum Menikah menjadi wajib,
Menikah bagi sebagian besar ulama menjadi wajib hukumnya, ketika seorang itu :
Telah mempunyai kemampuan untuk memberikan nafkah finansial pada keluarganya
Berada dalam lingkungan yang memungkinkan terjerumus dalam kezinaan
Latar belakang keimanan dan keshalihannya belum memadai
Puasa sudah tidak mampu lagi menahan gejolak dan kegelisahannya
Hal ini bersandarkan bahwa : menahan dan menjauhi dari kekejian adalah suatu hal yang wajib, dan jika yang wajib itu tidak terpenuhi selain dengan menikah, maka dengan sendirinya menikah itu menjadi ikut wajib hakimnya. Kaidah ini dikenal dengan nama : “ maa lam yatimmu al-wajib illa bihi fahuwa wajib “.

Kedua : Hukum Menikah menjadi Haram
Seseorang diharamkan baginya menikah, ketika bisa dipastikan (berdasarkan pengalaman dan dhahirnya) bahwa dalam pernikahan itu ia akan menzalimi istrinya. Salah satu contohnya yaitu :
jelas-jelas tidak mampu memberikan nafkah finansial pada istrinya.
Atau dalam kondisi tidak bisa menjalankan kewajibannya kepada suami/istrinya nanti, semisal : tidak punya kemampuan dalam hubungan suami istri.

Hukum haram ini bisa menjadi berubah saat dipastikan ternyata kondisi-kondisi tersebut telah diperbaiki. Lalu pertanyaan yang menarik selanjutnya adalah : Bagaimana jika seseorang berada pada kondisi yang berbahaya mengarah pada zina, dan pada saat yang sama dia belum mempunyai kemampuan finansial yang cukup ? . Maka solusi ‘sementara’ untuk hal ini adalah menjaga diri dengan berpuasa. Karena jika bertemunya wajib dengan haram, maka yang haramlah yang harus dijauhi terlebih dahulu.

Allah SWT berfirman “ Dan orang-orang yang tidak mampu kawin hendaklah menjaga kesucian (diri)nya, sehingga Allah memampukan mereka dengan karunia-Nya. “ (QS An- Nuur ayat 33)

Dari Ibnu Mas’ud, Rasulullah SAW bersabda : Wahai segenap pemuda, barang siapa diantara kamu telah mempunyai kemampuan (jimak) maka hendaklah segera menikah, karena itu lebih menundukkan pandangan, dan menjaga kemaluan. Barang siapa yang belum mampu (memberi nafkah) maka hendaklah ia berpuasa, karena itu menjadi perisai baginya “ (HR Jamaah)

Ketiga : Hukum Menikah menjadi Makruh
Yaitu ketika seseorang berada dalam kondisi yang dikhawatirkan (bukan dipastikan) akan menimbulkan bahaya dan kerugian jika menikah nantinya, misalnya karena beberapa faktor sebagai berikut :
karena ketidakmampuannya dalam mencukupi kebutuhan rumah tangganya, atau mempunyai penghasilan tetapi sangat belum layak.
Atau bisa juga karena track record kejiwaannya yang belum stabil, seperti emosional dan ringan tangan
Atau ada kecenderungan tidak mempunyai keinginan terhadap istrinya, sehingga dikhawatirkan nanti akan menyia-nyiakan istrinya

Keempat : Hukum Pernikahan menjadi Sunnah
Terakhir, jika seseorang berada dalam kondisi ‘pertengahan’ maka hukum menikah kembali kepada asalnya yaitu sunnah mustahabbah atau dianjurkan. Yaitu jika seseorang dalam kondisi :
Mempunyai daya dukung finansial yang mencukupi secara standar
Tidak dikhawatirkan terjerumus dalam perzinaan karena lingkungan yang baik serta kualitas keshalihan yang terjaga.
Dalil yang menunjukkan hukum asal sunnah sebuah pernikahan, diantaranya adalah yang diriwayakan anas bin malik ra. Yaitu ketika datang tiga sahabat menanyakan pada istri-istri nabi tentang ibadah beliau SAW, kemudian mereka bersemangat ingin menirunya hingga masing-masing mendeklarasikan program ibadah andalannya :
Ada yang mengatakan akan shalat malam terus menerus
Ada yang mengatakan akan puasa terus menerus
Ada yang mengatakan tidak akan menikah selamanya
Dan puncaknya, ketika Rasulullah SAW mendengar hal ini, beliau segera bereaksi keras dan memberikan statemen yang cukup jelas tentang hal tersebut. Beliau bersabda : Demi Allah .. sungguh aku ini yang paling takut kepada Allah di antara kamu sekalian, aku juga yang paling bertakwa pada-Nya, tetapi aku shalat malam dan juga tidur, aku berpuasa dan juga berbuka, dan aku juga menikahi wahita. Maka barang siapa yang tidak suka dengan sunnahku maka bukanlah bagian dariku “ (HR Bukhori)

==Nah, jika urusannya adalah sunnah, maka insya Allah lebih baik untuk disegerakan. Saya ingat sebuah kisah nyata yang dulu sering saya sampaikan pada ibu saya jauh-jauh hari sebelum akhirnya menikah. Kisahnya seorang pemuda mesir yang belajar di Amerika. Pada tahun pertama, ia minta ijin pada ibunya untuk menikah, tapi oleh ibunya dilarang. Begitu pula tahun kedua, dan ketiga ia mengulangi lagi permintaan untuk menikah, dan senantiasa juga ditolak. Hingga akhirnya di tahun keempat dan kelulusannya, ibunya datang dan mengatakan sekaranglah saatnya menikah. Maka sang anak menjawab dengan enteng : ibu, sekarang saya tidak memerlukan pernikahan, di Amerika ini saya bisa memenuhi kebutuhan biologis saya tanpa harus menikah. Bukankah dulu ibu melarang saya menikah, ketika saya benar-benar membutuhkannya untuk memenuhi kebutuhan biologis saya ?Wal iyyadz billah.

Ikhwan dan akhwat sekalian, marilah mengkaji ulang status dan kondisi kita hari ini. Apakah telah sampai pada kita kewajiban menikah ? sunnah, atau barangkali justru masih dalam status makruh ? Anda lebih tahu jawabannya. wallahu a’lam bisshowab.

(sumber: Tausiyah Ust. Hatta Syamsuddin, Lc)

PERNIKAHAN DAN PERJALANAN MENDAKI GUNUNG

Aku sempat berpikir bahwa pernikahan tak ubahnya seperti perjalanan seseorang untuk mendaki gunung. Banyak hal yang harus dipersiapkan sebelum mengatakan “siap” menundukan puncak gunung yang angkuh. Seperti juga pernikahan, seseorang tidak bisa begitu saja mengatakan “siap” menikah sebelum banyak hal bisa ia persiapkan.

Pola pikirku tentang pernikahan, awalnya cukup sulit untuk diajak berdamai dengan konsep yang digembar-gemborkan oleh para Da’i. Bagiku pernikahan tak bisa dilakukan sebelum memiliki ilmu yang memadai, sebelum memiliki kemapanan materi yang akan mencegah kita menjadi beban ekonomi baru bagi keluarga. Jalan pikiranku saat itu sukar ditembus, sekalipun oleh mereka yang sudah bersahabat dekat denganku.

Aku sering bertanya dalam hati, kenapa ada begitu banyak orang yang ingin menikah dengan status sebagai mahasiswa?

Pun, aku sering tak habis pikir ketika ada orang yang menggembar-gemborkan untuk segera menikah di usia sangat muda. Bagiku saat itu, pernikahan seringkali mempensiunkan para aktivis dari aktivitasnya sebelum menikah. Pernikahan seringkali membuat seorang remaja harapan bangsa terhambat untuk menyelesaikan studi formal. Sehingga tak dapat berkontribusi terhadap kemajuan bangsa. Pernikahan tanpa kecukupan materi juga hanya akan menambah deretan panjang masyarakat miskin dan generasi busung lapar yang tak sanggup dibiayai oleh kedua orangtuannya. Karena tadi, tidak cukup materi.

Semua pemikiran itu, cukup membuatku agak malas membicarakan pernikahan dengan status belum mapan (baca: belum berpenghasilan). Yaa. Seperti itulah. Aku sering membandingkan dengan negara-negara maju yang sebagian besar penduduknya non muslim, bisa maju dan berkembang pesat dalam bidang IPTEK. Coba saja lihat, usia kalangan mereka saat menikah!

Jika kita selalu membahas nikah…nikah..dan nikah….siapa yang akan mengejar ketertinggalan itu? Karena pernikahan adalah tanggung jawab baru yang tidak bisa dipandang sepele.

Bagiku pernikaha akan menambah aktivitas baru yang mungkin berat. Khususnya bagi wanita, tentu akan sangat berat meninggalkan rumah dengan kondisi serba tak terurus. Mau diserahkan pada siapa tugas pendidikan tunas-tunas baru (anak-anak kita) jika kita sendiri sibuk kuliah, rapat, dan aktivitas lainnya???

Berkali-kali aku mencoba berdiskusi dengan orang. Berkali-kali pula aku tak menemukan jawaban yang meyakinkan. Aku nyaris tak tergoyahkan dari kalimat-kalimat seperti ini,

“pernikahan itu tidak jauh dengan pendakian ke sebuah gunug. Siapapun yang akan memulai pendakian harus sudah menyiapkan beberapa hal agar dalam pendakiannya ia tidak mengalami kesulitan yang berarti.”

“orang harus tahu ilmu mendaki gunung yang tepat, dari mulai navigasi, cara survival ala pecinta alam, dan tentu saja perbekalan yang cukup sebelum mendaki seperti kondisi tubuh yang fit dan makanan untuk makan beberapa hari”

“orang yang nekat mendaki gunung dengan hanya berbekal kata INGIN, akan menghadapi risiko yang amat tinggi dalam perjalanannya. Jika seseorang yang tidak terlatih menaiki puncak Jayawijaya dengan hanya berbekal kekaguman akan keindahan Jayawijaya, hal itu sama saja dengan merencanakan kematian dengan cara yang konyol!!”

“Ok, dia sudah menyiapkan makanan. Ok, dia pergi dengan tubuh yang fit. Tapi berapa lama?? Tanpa ilmu dan kesabaran yang kuat, semua itu akan menjadi sebuah perjalanan menyambut kematian. Sebab, bisa saja dalam perjalanan cadangan makanan habis. Tanpa pengetahuan untuk membedakan mana jenis tanaman layak makan, beracun, dan tanaman obat…apa bisa mempertahankan hidup hingga selamat kembali ke kaki gunung?”

“Sekarang, ada orang yang tahu tentang jenis makanan alami di pegunungan, tahu cara survival di sana, tapi apabila tidak memahami navigasi……Mau berapa lama ia berputar-putar mengitari hutan di pegunungan untuk sekedar mencari jalan ke sungai atau bahkan jalan pulang?”

Aku mematri pemikiran ini selama bertahun-tahun. Bertahan dengan ego yang tak tergoyahkan. Tanpa sadar, hati sudah sangat ringkih untuk selalu menjadi tempat bersembunyi. Menghindar dari kesejatian fitrah diri, sebagai manusia, sebagai abdi.

Tapi, bukankah Allah Maha Pemberi Petunjuk…..Ia keluarkan seseorang dari kegelapan. Ia tuntun siapapun yang dikehendaki-Nya ke jalan yang benar. Dan aku bersyukur menjadi salah satu diantara yang beruntung mendapat petunjuk-Nya.

Bukan lewat mimpi. Bukan lewat perenungan panjang. Hanya sebuah pertemuan yang rutin aku hadiri. Pertemuan mingguan dengan seorang guru ngaji. Lewatnya lah aku mendapat jalan terang atas segala ketidakpastian selama ini.

Beliau bertutur tentang pernikahan, ketika salah seorang kawan mengungkapakan pandangannya yang nyaris sama denganku. Lalu, Beliau pun menjawab.

“Pernikahan itu tidak harus menunggu segalanya siap. Tidak harus menunggu telah mapan (cukup harta). Karena pernikahan itu menjadi wajib manakala diri sudah tak mampu lagi menyelamatkan dari zina. Kalaupun belum mapan, Allah yang akan memapankan. Kalau belum berilmu, ilmu itu bisa dicari ketika telah menikah. Maka ketika ada konsep bahwa menikah itu hanya boleh dilakukan ketika sudah siap materi, siap ilmu, dan sebagainya…itu salah besar. Siapa yang menjamin bahwa seseorang bisa segera mapan sesuai harapannya sebelum menikah?“

Dalam hati aku nyengir. Dengan sedikit malu aku harus menyadari bahwa pernikahan tak bisa disejajarkan dengan pendakian sebuah gunung terjal, sekalipun pernikahan itu harus selalu dibekali dengan banyak hal. Di antara keduanya ada perbedaan prinsip yang tak bisa lagi ditawar-tawar.

Pernikahan adalah satu hal yang niscaya, atau minimalnya kebutuhan setiap insan. Sehingga statusnya akan menjadi WAJIB.

Wajib untuk dipenuhi manakala segala hal, termasuk puasa, tak mampu lagi menjadi penggantinya.

Baca lebih lanjut