Terwujudnya sebuah doa (My research diary Part II)

“Apa yang terjadi padamu hari ini, kawan…

Bisa jadi adalah pengabulan dari doamu yang terdahulu”

Kalimat itu adalah penggal nasihat yang saya terima beberapa hari lalu. Kalimat itu terekam cukup kuat dalam benak saya karena pas dengan alur yang sedang saya jalani saat ini. Yeap…seperti yang saya tuliskan di note sebelumnya “My Research Diary Part I”, saat ini saya sedang benar-benar diuji dengan proses penelitian.

Saya ingat, pada semester ke-6 perkuliahan saya pernah bercerita pada salah satu dosen di kampus bahwa saya ingin melakukan minimal 2 penelitian selama saya menjalani studi strata 1. Semangat saya untuk menjadi peneliti sedang tinggi-tingginya kala itu. Saya malah juga terobsesi untuk mengerjakan proyek dengan ide sendiri, meski tetap menumpang di Lab kampus. Bagi saya, lulus dengan (minimal) dua judul penelitian memberikan kepuasan tersendiri. Tapi, apa daya. Tenggat waktu yang saya alokasikan untuk mini riset keburu habis. Sementara judul yang saya rancang tak sempat diajukan untuk pencarian dana. Walhasil, saya berpasrah bahwa saya kemungkinan hanya bisa lulus sebagai sarjana biasa: Melakukan satu penelitian demi kelulusan belaka.

Hari terus berganti…Saya sudah semakin (sok) sibuk dengan proyek tugas akhir saya di sebuah lembaga pemerintah. Dan tentu saja, saya pun lupa dengan doa dan impian kecil saya kala itu. Tetapi, tahukah kawan, TUHAN tidak pernah lupa pada doa hamba-Nya. Dan Tuhan juga telah berjanji akan selalu mengabulkan doa setiap hamba, lambat ataupun cepat. Hari ini, kawan. Aku membuktikan itu sendiri. Tuhan membayar tunai impianku di semester ke-6 masa perkuliahan, di saat mahasiswa seangkatanku sudah banyak ‘kabur’ dari kampus dengan menggondol gelar sarjana.

Setelah 6 bulan berkutat dengan judul ke-2 penelitian, indikasi untuk segera membuat judul baru semakin jelas terlihat. Untuk kedua kalinya aku harus (mau tidak mau) menghentikan secara paksa penelitian yang sedang aku kerjakan. Tahukah kawan apa artinya itu? Artinya, aku telah tunai melakukan dua penelitian (mini riset) sebelum meraih gelar sarjana. Dan sebentar lagi harus segera menyusun ide baru untuk penelitian TUGAS AKHIR ku. Tuhan tak pernah ingkar janji. Kuminta kesempatan untuk melakukan minimal 2 penelitian, Tuhan berikan. Kuminta agar ‘sederhana’ pun Ia berikan. Sekarang aku sedang ingin tersenyum melihat takdirku. Adakah aku seringkali salah menginginkan sesuatu? Adakah aku seringkali salah mengucap doa? Aku rasa, aku pun belum pandai menggali niat dari suatu capaian hidup yang aku inginkan.

Hufthhh…ketiadaan ilmu membuatku harus membayar mahal sebuah hikmah dengan waktu, tenaga, uang, dan pikiran. Aku berharap ‘kegagalan’ yang aku alami bisa mengikis kesombongan yang bertahta dalam hatiku. Keberhasilan terjadi bukan semata karena kehebatan tangan kita, tetapi karenaTuhan (juga) merestui.

Lika-liku Tugas Akhir Q (My Research Diary, Part. 1)

Ada yang ingin kubagi tentang Tugas Akhir (TA) Q. Setelah lebih dari 6 bulan berkutat dg penelitian, di periode 6 bulan yang ke dua aq mulai menyadari satu hal: bahwa perjalanan TA Q cukup rumit. Bukan semata metodologinya yang agak tak biasa. Tapi juga kejadian-kejadian luar biasa yang menjadi bumbu dari alur cerita yg aq jalani. Kalau aq urai, rupanya dahsyat juga TA Q ini. Bertabur ‘bencana’ dan anugrah.

1. Dua bulan setelah berkutat dengan Genome Shufling, penelitian Q divonis ‘tak layak’ jalan. Yang berarti, aq harus mcari topik penelitian baru. Sambil penyusunan proposal baru, aq berlatih teknik molekuler

2. Setengah bulan kemudian, dalam masa-masa transisi ke topik baru, ‘musibah’ yang baru menimpaku. Aq ‘menghilangkan’ komponen alat Lab yang harga satu set nya mencapai 200.000 yen! 3 bulan lamanya pekerjaan di Lab tertunda krn hilangnya komponen kecil itu. Untunglah, berkat pertolongan banyak orang, aq bs membeli spare part-nya dengan harga yang jauh lebih ‘murah’ (4rb yen).

3. Miss com konsep penelitian. Gara-gara kurang paham dengan arah penelitian di topik yg baru, aq hampir saja tidak mdapat ijin penelitian dari pihak komisi TA d kampus. Sementara kmunikasi dengan pembimbing penelitian di Lab (dipanggl sensei) terhitung sulit. Selama 3 bulan ditinggal sensei ke Jepang. Entahlah…saat itu rasanya gak tentu arah. Untunglah dosen pembimbing+ dosen penguji di kampus bersikap kooperatif. Akhirnya, topik tersebut disetujui juga (setelah seminar ulang).

4. Tepat ketika mengurusi seminar proposal dan urusan administratif kampus, aq mgalami kecelakaan lalulintas. Walhasil, semprop tertunda hingga 3 minggu. Tapi, dari musibah ini aq jadi tau, banyak teman yg peduli+sayang padaku. Subhanallah…terharu kalo ingat itu. hehe

5. Hingga minggu ini, bakteri Q masih juga belum optimal pertumbuhannya. Padahal pertumbuhan sel menjadi kunci bisa tidaknya langkah utama penelitian dikerjakan. Hufth…sejujurnya, aq masih ingin mencoba dan juga msh menyimpan harapan bisa mendapat hasil yang baik dalam waktu dekat. Tapi, bahkan sensei sekalipun (orang yang sangat berpengalaman soal bakteri dan Q kenal paling tangguh), angkat tangan soal bakteri Q! Tempo hari, beliau mengucapkan sebuah kalimat deduksi yang menjadi ‘penentu’ ujung perjalananku selama lebih dari 6 bulan ini, “kalo bakterimu tetep gak mau tumbuh juga, berarti kamu harus Ganti T*P*k (lagi)”.

…dan seketika kehidupan di sekitarku terasa berhenti sejenak. (Dalam hari hari penuh doa. Semoga Allah bukakan jalan keluar terbaik untuk Q. Amiin)

SMS Merah Muda

(Berikut ini artikel tentang penjagaan hati yang saya peroleh dari situs Baitijannati. Saya salin langsung tanpa pengeditan sedikitpun. Ditulis oleh Farid Ma’ruf di/pada Juli 11, 2007)

Tetap istiqomah, Ukhti. Selamat berjuang. Semoga Allah menyertai anti.

Sender : Ikhwan +62817xxx

Senyum timbul dari cakrawalanya dengan malu-malu. Serasa ada hangat menyelusup dada dan membuat jantung berdegup lebih cepat. Otaknya pun sekejap bertanya, ”Ada apa? Sungguh, bukan apa-apa. Aku hanya senang karena ada saudara yang menyemangatiku.” Si akhwat menyangkal hatinya cepat-cepat. Dan ia bergegas meninggalkan kamarnya, ada dauroh. Ia berlari sambil membawa sekeping rasa bahagia membaca SMS tadi yang sebagian besar bukan karena isinya, melainkan karena nama pengirimnya.

Ana lagi di bundaran HI, Ukhti. Doakan kami bisa memperjuangkan ini.

Sender : Ikhwan +628179823xxx

Untuk apa dia memberitahukan ini padaku. Bukankah banyak ikhwan atau akhwat lain? Nada protes bergema di benaknya. Tapi di suatu tempat, entah di mana ada derak-derak yang berhembus lalu. Derak samar bangga menjadi perempuan yang terpilih yang di-SMS-nya.

Baca lebih lanjut

Sebuah Renungan (part 1)

Kita Tidak Harus Menunggu Semuanya Terjelaskan Dengan Logika Untuk Tunduk Pada Aturan Allah.

Karena Ketika Semuanya Sudah Terjangkau Oleh Akal, Belum Tentu Kita Masih Memiliki Kesempatan untuk Mengimaninya.

***

Apakah kamu termasuk orang yang hanya akan tunduk pada Allah jika segalanya telah terjelaskan secara ilmiah?

Bayangkan jika kamu adalah umat islam yang hidup di masa Rasulullah Saw. Ketika Rasulullah datang padamu dan menjelaskan bahwa ia baru saja menempuh perjalanan ribuan kilometer dalam semalam ke masjidil aqsa, kemudian ke sidratul muntaha.

Apakah kamu akan mempercayainya?

Tidak?

Tapi Abu Bakr mempercayainya tanpa banyak tanya.

Bayangkan jika kamu adalah orang yang hidup di zaman Rasulullah Saw saat beliau menyampaikan bahwa bumi dan bulan beredar pada garis edarnya  masing-masing.

Apakah kamu akan mempercayainya?

Orang-orang yang tak beriman saat itu menyebut Rasulullah telah ngelantur.

Tetapi ilmu yang berkembang ratusan tahun kemudian membenarkan ucapan seorang ‘ummi (tak bisa baca tulis) yang telah mereka nilai ngelantur.

Bayangkan jika kamu adalah seorang wanita yang hidup di saat pelecehan terhadap wanita begitu maraknya; lalu seseorang datang untuk memuliakan wanita; memintamu menutup aurat.

Apakah kamu akan menaatinya?

Tidak?

Tetapi muslimah di zaman Rasulullah Saw langsung menyambar kain apa saja yang ada di dekatnya untuk menutup aurat mereka.

Jika kita adalah mereka, sungguh jauh jarak masa hidup kita dengan penjelasan ilmiah untuk membuat kita beriman. Jika kita adalah mereka, telah sampai kita pada Tuhan kita sebelum sempat mengimani-Nya.

Mereka yang hidup di masa Rasulullah Saw adalah orang-orang cerdas yang mampu berdagang lintas benua, mencipta baju perang dari besi, dan membaca rasi bintang sebagai penunjuk jalan. Mereka yang dikatai jahil (Bahasa Arab: bodoh) oleh Rasulullah bukanlah orang yang tidak sanggup baca dan tulis. Bahkan mereka adalah para penyair yang mahir.

Tetapi mereka tetap memilih cara hidup yang salah; memuja berhala, mengundi nasib, memperlakukan wanita sebagai benda, membunuh bayi-bayi tak berdosa, menilai harkat manusia berdasarkan ras,…..

Semua ke’bodohan’ tersebut masih ada hingga kini dengan segala bentuk barunya.

Haruskah kita sama seperti mereka yang disebut umat JAHIL (bodoh); meski ayat Al-Quran telah lunas turun ke bumi; meski Rasul telah contohkan berjuta kali? Hingga azab nyaris turun menghabisi mereka.

Tetapi Rasul hingga akhir hayatnya memohon pada Allah SWT, “Umatku…umatku” . Ia yang selalu dinafikan ajarannya, ia yang selalu dinilai ngawur ucapannya, ia yang  tak lelah berjuang menebar rahmat islam, masih sempat menitipkan umatnya pada pesan terakhirnya.

Masihkah kita perlu menunda waktu untuk beriman, hanya karena semuanya belum terjelaskan dengan logika dan ilmu pengetahuan?

Masihkah kita perlu menunda waktu untuk tunduk pada ajarannya, hanya karena kita belum mampu memahaminya?

Masihkan kita perlu meragukan isi Al-quran, setelah Allah menggaransi kemurnian selamanya?

Saatnya untuk memutuskan.

Di dunia ini hidup kita hanya sekali. Hanya sekali.

Wallahu’alam.

Mencintai Itu Keputusan!

Begitu judul salah satu bab dalam bukunya Anis Matta_Serial Cinta.

Apa yang tertulis dalam bab tersebut membuat saya banyak merenungkan segenap pengalaman yang pernah saya rasakan. Pengalaman tentang cinta pertama, khususnya.

Orang seringkali mengatakan, “Aku mencintai si Fulan atau Fulanah” ketika ia merasakan kesejiwaan dengan seseorang. Ucapan itu muncul karena spontanitas perasaan yang meluap-luap dalam dada, tanpa merasa perlu mengkonfirmasi terlebih dahulu : apa itu Cinta?

i-luv-u

Anis Matta mengatakan, berhati-hatilah saat akan mengatakan, “Aku menCINTAimu” kepada siapa pun.

Sebab cinta adalah kata lain dari memberisebab memberi adalah pekerjaansebab pekerjaan cinta dalam siklus memperhatikan, menumbuhkan, merawat, dan melindungi itu berat..sebab pekerjaan itu harus ditunaikan dalam waktu lama..sebab pekerjaan berat dalam waktu lama hanya mungin dilakukan oleh mereka yang tangguh…”

Begitulah..

Dan saya merasa begitu tertegur dengan peringatan itu. Karena saya masih sering terlalu gegabah, terlalu tergesa-gesa untuk mengatakan dalam hati, “Aku mencintai si Fulan”. Padahal cinta itu tidak sama dengan kagum. Cinta bisa menerima sisi gelap objek yang dicintainya. Seperti orangtua pada anaknya.

Kita belum menCINTAI sesuatu sebelum kita BERKORBAN untuk sesuatu yang kita cintai. (Neoaisyah)

_Bumi Damai, 14 April 2009_

I Cried For My Brother Six Times

(obat hati dari artikel yang saya ambil tanpa editing terlebih dahulu)

Mudah-mudahan mampu melembutkan hati kita yang keras karena terlalu sibuk urusan dunia.

>>

Aku dilahirkan di sebuah dusun pegunungan yang sangat terpencil. Hari demi hari, orang tuaku membajak tanah kering kuning, dan punggung mereka menghadap ke langit. Aku mempunyai seorang adik, tiga tahun lebih muda dariku. Yang mencintaiku lebih daripada aku mencintainya.

Suatu ketika, untuk membeli sebuah sapu tangan yang mana semua gadis di sekelilingku kelihatannya membawanya, Aku mencuri lima puluh sen dari laci ayahku. Ayah segera menyadarinya. Beliau membuat adikku dan aku berlutut di depan tembok, dengan sebuah tongkat bambu di tangannya.

“Siapa yang mencuri uang itu?” Beliau bertanya. Aku terpaku, terlalu takut untuk berbicara. Ayah tidak mendengar siapa pun mengaku, jadi beliau mengatakan, “Baiklah, kalau begitu, kalian berdua layak dipukul!”

Dia mengangkat tongkat bambu tinggi-tinggi. Tiba-tiba, adikku mencengkeram tangannya dan berkata, “Ayah, aku yang melakukannya!”

Tongkat panjang itu menghantam punggung adikku bertubi-tubi. Ayah begitu marahnya sehingga ia terus menerus mencambukinya sampai beliau kehabisan nafas. Sesudahnya, Beliau duduk di atas ranjang batu bata kami dan memarahi, “Kamu sudah belajar mencuri dari rumah sekarang, hal memalukan apa lagi yang akan kamu lakukan di masa mendatang? Kamu layak dipukul sampai mati! Kamu pencuri tidak tahu malu!”

Malam itu, ibu dan aku memeluk adikku dalam pelukan kami. Tubuhnya penuh dengan luka, tetapi ia tidak menitikkan air mata setetes pun. Di pertengahan malam itu, saya tiba-tiba mulai menangis meraung-raung. Adikku menutup mulutku dengan tangan kecilnya dan berkata, “Kak, jangan menangis lagi sekarang. Semuanya sudah terjadi.”

Aku masih selalu membenci diriku karena tidak memiliki cukup keberanian untuk maju mengaku. Bertahun-tahun telah lewat, tapi insiden tersebut masih kelihatan seperti baru kemarin. Aku tidak pernah akan lupa tampang adikku ketika ia melindungiku. Waktu itu, adikku berusia 8 tahun. Aku berusia 11.

Ketika adikku berada pada tahun terakhirnya di SMP, ia lulus untuk masuk ke SMA di pusat kabupaten. Pada saat yang sama, saya diterima untuk masuk ke sebuah universitas provinsi. Malam itu, ayah berjongkok di halaman, menghisap rokok tembakaunya, bungkus demi bungkus. Saya mendengarnya memberengut, “Kedua anak kita memberikan hasil yang begitu baik, hasil yang begitu baik” Ibu mengusap air matanya yang mengalir dan menghela nafas, “Apa gunanya? Bagaimana mungkin kita bisa membiayai keduanya sekaligus?”

Saat itu juga, adikku berjalan keluar ke hadapan ayah dan berkata, “Ayah, saya tidak mau melanjutkan sekolah lagi, saya telah cukup membaca banyak buku.”

Ayah mengayunkan tangannya dan memukul adikku pada wajahnya. “Mengapa kau mempunyai jiwa yang begitu keparat lemahnya? Bahkan jika berarti saya mesti mengemis di jalanan saya akan menyekolahkan kamu berdua samapai selesai!”

Dan begitu kemudian ia mengetuk setiap rumah di dusun itu untuk meminjam uang. Aku menjulurkan tanganku selembut yang aku bisa ke muka adikku yang membengkak, dan berkata, “Seorang anak laki-laki harus meneruskan sekolahnya. Kalau tidak ia tidak akan pernah meninggalkan jurang kemiskinan ini.” Aku, sebaliknya, telah memutuskan untuk tidak lagi meneruskan ke universitas.

Siapa sangka keesokan harinya, sebelum subuh datang, adikku meninggalkan rumah dengan beberapa helai pakaian lusuh dan sedikit kacang yang sudah mengering. Dia menyelinap ke samping ranjangku dan meninggalkan secarik kertas di bantalku: “Kak, masuk ke universitas tidaklah mudah. Saya akan pergi mencari kerja dan mengirimu uang.”

Aku memegang kertas tersebut di atas tempat tidurku, dan menangis dengan air mata bercucuran sampai suaraku hilang. Tahun itu, adikku berusia 17 tahun. Aku 20.

Dengan uang yang ayahku pinjam dari seluruh dusun, dan uang yang adikku hasilkan dari mengangkut semen pada punggungnya di lokasi konstruksi, aku akhirnya sampai ke tahun ketiga. Suatu hari, aku sedang belajar di kamarku, ketika teman sekamarku masuk dan memberitahukan, “Ada seorang penduduk dusun menunggumu di luar sana!”

Mengapa ada seorang penduduk dusun mencariku? Aku berjalan keluar, dan melihat adikku dari jauh, seluruh badannya kotor tertutup debu semen dan pasir. Aku menanyakannya, “Mengapa kamu tidak bilang pada teman sekamarku kamu adalah adikku?”

Dia menjawab, tersenyum, “Lihat bagaimana penampilanku. Apa yang akan mereka pikir jika mereka tahu saya adalah adikmu? Apa mereka tidak akan menertawakanmu?”

Aku merasa terenyuh, dan air mata memenuhi mataku. Aku menyapu debu-debu dari adikku semuanya, dan tersekat-sekat dalam kata-kataku, “Aku tidak perduli omongan siapapun! Kamu adalah adikku apapun juga! Kamu adalah adikku bagaimanapun penampilanmu…”

Dari sakunya, ia mengeluarkan sebuah jepit rambut berbentuk kupu-kupu. Ia memakaikannya kepadaku, dan terus menjelaskan, “Saya melihat semua gadis kota memakainya. Jadi saya pikir kamu juga harus memiliki satu.”

Aku tidak dapat menahan diri lebih lama lagi. Aku menarik adikku ke dalam pelukanku dan menangis dan menangis. Tahun itu, ia berusia 20. Aku 23.

Kali pertama aku membawa pacarku ke rumah, kaca jendela yang pecah telah diganti, dan kelihatan bersih di mana-mana. Setelah pacarku pulang aku menari seperti gadis kecil di depan ibuku. “Bu, ibu tidak perlu menghabiskan begitu banyak waktu untuk membersihkan rumah kita!” Tetapi katanya, sambil tersenyum, “Itu adalah adikmu yang pulang awal untuk membersihkan rumah ini. Tidakkah kamu melihat luka pada tangannya? Ia terluka ketika memasang kaca jendela baru itu.”

Aku masuk kedalam ruangan kecil adikku. Melihat mukanya yang kurus, seratus jarum terasa menusukku. Aku mengoleskan sedikit saleb pada lukanya dan membalut lukanya. “Apakah itu sakit?” Aku menanyakannya.

“Tidak, tidak sakit. Kamu tahu, ketika saya bekerja di lokasi konstruksi, batu-batu berjatuhan pada kakiku setiap waktu. Bahkan itu tidak menghentikanku bekerja dan..” Ditengah kalimat itu ia berhenti. Aku membalikkan tubuhku memunggunginya, dan air mata mengalir deras turun ke wajahku. Tahun itu, adikku 23. Aku berusia 26.

Ktika aku menikah, aku tinggal di kota. Banyak kali suamiku dan aku mengundang orang tuaku untuk datang dan tinggal bersama kami, tetapi mereka tidak pernah mau. Mereka mengatakan, sekali meninggalkan dusun, mereka tidak akan tahu harus mengerjakan apa. Adikku tidak setuju juga, mengatakan, “Kak, jagalah mertuamu saja. Saya akan menjaga ibu dan ayah di sini.”

Suamiku menjadi direktur pabriknya. Kami menginginkan adikku mendapatkan pekerjaan sebagai manajer pada departemen pemeliharaan. Tetapi adikku menolak tawaran tersebut. Ia bersikeras memulai bekerja sebagai pekerja reparasi.

Suatau hari, adikku di atas sebuah tangga untuk memperbaiki sebuah kabel, ketika ia mendapat sengatan listrik, dan masuk rumah sakit. Suamiku dan aku pergi menjenguknya. Melihat gips putih pada kakinya, saya menggerutu, “Mengapa kamu menolak menjadi manajer? Manajer tidak akan pernah harus melakukan sesuatu yang berbahaya seperti ini. Lihat kamu sekarang, luka yang begitu serius. Mengapa kamu tidak mau mendengar kami sebelumnya?”

Dengan tampang yang serius pada wajahnya, ia membela keputusannya. “Pikirkan kakak ipar, ia baru saja jadi direktur, dan saya hampir tidak berpendidikan. Jika saya menjadi manajer seperti itu, berita seperti apa yang akan dikirimkan?”

Mata suamiku dipenuhi air mata, dan kemudian keluar kata-kataku yang sepatah-sepatah: “Tapi kamu kurang pendidikan juga karena aku!”

“Mengapa membicarakan masa lalu?” Adikku menggenggam tanganku. Tahun itu, ia berusia 26 dan aku 29.

Adikku kemudian berusia 30 ketika ia menikahi seorang gadis petani dari dusun itu. Dalam acara pernikahannya, pembawa acara perayaan itu bertanya kepadanya, “Siapa yang paling kamu hormati dan kasihi?” Tanpa bahkan berpikir ia menjawab, “Kakakku.”

Ia melanjutkan dengan menceritakan kembali sebuah kisah yang bahkan tidak dapat kuingat. “Ketika saya pergi sekolah SD, ia berada pada dusun yang berbeda. Setiap hari kakakku dan saya berjalan selama dua jam untuk pergi ke sekolah dan pulang ke rumah. Suatu hari, saya kehilangan satu dari sarung tanganku. Kakakku memberikan satu dari kepunyaannya. Ia hanya memakai satu saja dan berjalan sejauh itu. Ketika kami tiba di rumah, tangannya begitu gemetaran karena cuaca yang begitu dingin sampai ia tidak dapat memegang sumpitnya. Sejak hari itu, saya bersumpah, selama saya masih hidup, saya akan menjaga kakakku dan baik kepadanya.”

Tepuk tangan membanjiri ruangan itu. Semua tamu memalingkan perhatiannya kepadaku.

Kata-kata begitu susah kuucapkan keluar bibirku, “Dalam hidupku, orang yang paling aku berterima kasih adalah adikku.” Dan dalam kesempatan yang paling berbahagia ini, di depan kerumunan perayaan ini, air mata bercucuran turun dari wajahku seperti sungai.

(mudah-mudahan penulisnya ikhlas. amien)

sumber : http://yohang.web.id

http://www.taimeng.com