RE-CHARGE JIWA BAGI PARA PEMUDA

Misi besar, hanya bisa dipenuhi oleh orang yang telah betul-betul mantap mempersiapkan dirinya. Memilih jalan cinta para pejuang, berarti bersiap untuk menempuh perjalanan panjang yang melelahkan, beronak duri, dan tak jarang meminta hal berharga dalam hidup. Tetapi mereka yang mengambilnya tahu. Bahwa di ujung perjalanannya ada cita. Ada kemenangan sejati yang mereka nanti-nanti. Pencapaian besar berdiri gagah di hadapan, membuat semua pengorbanan serasa tak ada nilainya.

Di Jalan cinta para pejuang, menitinya dengan sabar adalah kehormatan. Lengah dan lalai membuat siapapun  terlempar (ke luar). Di Jalan cinta para pejuang, hanya yang terbaik yang bisa bertahan. Karena itulah, para pejuang sejati terus mengisi waktu luangnya dengan bekal-bekal terbaik. Hanya dua pilihan yang mereka sisakan untuk hidupnya: Gugur dalam perjuangan atau  Berjaya dalam kemenangan!

Dari sebuah buku inspiratif karya Salim A.Fillah, “Jalan cinta para pejuang”, penulis hadirkan kembali salah satu kisah agung untuk mengokohkan kembali jiwa kita yang sempat terkulai lemah tanpa asa. Semoga sedikit uraiannya membuat kita kembali terdorong untuk segera berkemas meninggalkan kebiasaan buruk yang kita ‘tekuni’ dan hampir melekat menjadi watak. Segera buang itu semua. Karena kisah berikut ini akan membuat kita sadar, bahwa jalan perjuangan kita terlalu berharga untuk dibiarkan tanpa agenda-agenda besar.

>>

Suatu kali, seorang Sultan muda berusia 23 tahun berdiri di depan seluruh pasukannya. Dari balik mimbar, Ia meminta semua orang di hadapannya untuk berdiri.

“Saudara-saudaraku di jalan Allah. Amanah yang dipikulkan ke pundak kita menuntut hanya yang terbaik yang layak mendapatkannya. Tujuh ratus tahun lamanya nubuat Rasulullah telah menggerakan para mujahid tangguh , tetapi Allah belum mengijinkan mereka memenuhinya”

Hening….

“Aku katakan pada kalian sekarang, yang pernah meninggalkan sholat fardlu setelah balighnya, silakan duduk!”

Begitu sunyi, tak seorang pun bergerak.

“Yang pernah meninggalkan puasa Ramadhan, silakan duduk!”
Seperti sebelumnya, tak satu pun bergerak. Suasana mulai tegang.

“Yang pernah mengkhatamkan Al-Quran melebihi satu bulan, silakan duduk!”

Dan kali ini, mulailah beberapa orang yang menekuk kakinya, meneteskan air mata.

“Yang pernah kehilangan hafalan Al-Qurannya, silakan duduk!”

Suasana semakin haru, pilu, semua bercampur jadi satu. Kali ini lebih banyak yang merendahkan posisinya. Tangis semakin menjadi. Mereka cemas tak menjadi ujung tombak pasukan.

“Yang pernah meninggalkan sholat malam semenjak balighnya, silakan duduk!”

Kriteria semakin meninggi. Jumlah yang terduduk lemas terus bertambah. Hanya beberapa yang masih tegap berdiri di hadapan Sultan mudanya. Wajah mereka semakin tegang, dada berdegup kencang, seleksi itu masih terus dilanjutkan.

“Yang pernah meninggalkan puasa ayamul bidh, silakan duduk!”

Dan…

Pertanyaan tersebut mengakhiri seleksi kali itu. Hanya satu orang yang tetap berdiri dari mula hingga akhir. Dialah Muhammad Al-Fatih! Sang Sultan Muda yang membawa pasukan gagah berani pada sebuah kemenangan yang tertunda selama tujuh abad lamanya: Konstantinopel.

>>

Tidak harus sekarang…

Tidak harus sekarang…
Kau masih punya banyak waktu untuk memperbaiki semua rencana hidupmu hari ini.
Tidak harus saat ini…
bersabarlah untuk sebuah hasil yang telah kau tekuni sejak lama.
Bukankah buluh bambu yang di tanam nenek moyangmu tidak selalu dapat ia petik segera?
dan bukankah batu cadas pun melekuk oleh sekedar tetesan air yang tekun menerjangnya?

Kebaikan yang kau lakukan hari ini tetap akan kau milliki
apakah itu kau terima melalui tanganmu sendiri
atau melalui harum namamu suatu kali nanti, ketika kau tak lagi ada
Dan biarlah biji yang kau tanam hari ini, tak segera kau petik hasilnya dalam setahun ini…
atau sekedar kau lihat bunganya esok hari,
asalkan kau yakin telah melakukannya dengan segenap hatimu…
Tuhan memeluk mimpi-mimpimu*

Semua yang bisa kau miliki
adalah proses yang kau jalani
pada setiap jejak yang kau buat menuju mimpimu
Bagi mereka yang tahu cara menikmati perjalanan hidupnya
tak pernah ada kecewa

Kau tahu di setiap impian dan cita-cita itu
ada peluh yang mesti kau keluarkan
dan tangis yang tak bisa kau tahan.
Tetapi kau pun tetap yakin..
seyakin dahulu, saat kau baru sekedar berani menetapkan tujuanmu itu
“Kau akan sampai ke sana. PASTI”

Catatan:
* ucapan Arai dalam Sang Pemimpi
—-Bumi damai, saat aku perlu memantapkan tujuan hidupQ—

Pilihan Hidup

Pernahkah kamu merasa ‘terdampar’ dalam suatu kondisi yang tidak kamu harapkan?? Salah masuk jurusan kuliah, misalnya?? Saya ingin sekali berbagi cerita tentang urusan ini. Tentang sebuah penolakan terhadap takdir yang Ia tetapkan untuk kita. Sumber cerita sebagian berasal dari pengalaman beberapa orang yang pernah berbagi dengan penulis, sebagian kecil lainnya ditambahkan untuk memperkuat pesan dalam cerita.

Seorang maba (mahassiwa baru) telah menghabiskan tiga kali kesempatan dalam SPMB untuk mendapatkan kesempatan kuliah di tempat yang ia harapkan. Baginya tak mengapa harus menunda masa studi hingga tiga tahun, asalkan jurusan impiannya itu bisa ia masuki. Tapi sayang, di kesempatan ketiganya pun ia ‘gagal’ di pilihan pertama dan kedua. Dan untuk kesekian kalinya ia dipaksa untuk memiliih alternatif ketiga dari jurusan yang talah ia pilih saat UJIAN SPMB.
Hari demi hari di kampus barunya ia lalui tanpa ‘RUH’. Ia tak bernar-benar menyadari apa saja yang telah ia lewati pada setiap aktivitas studinya. Yang ia tahu ia merasa bahwa Allah telah keliru memberinya takdir. Walhasil, IPK jeblok, penampilan suram (maklum jarang senyum sihh), dan kurva ibadah harian melandai….Ckccckck kasian sekali.
Di kemudian hari, saat ia mencoba bangkit, satu per satu hikmah yang selama ini tertutup dari mata batinnya mengemuka. Ia baru saja mengetahui bahwa jurusannya itu ternyata adalah yang terbaik di bidangnya di tingkat nasional. Semburat kebanggaan muncul dalam dadanya. Tak cukup di situ, Allah memberitahukan lagi kebesaran-Nya. Pada tahun ke dua kuliahnya, ia dipertemukan dengan sebuah komunitas yang telah lama ia cari. Dan itu sekali lagi ia temukan di tempat yang awalnya ia rutuki mati-matian. Dari komunitas itu, ia mendapat banyak kesempatan untuk semakin menggali potensi yang sungguh selama ini tidak ia sadari. Pada tahun ketiga kulihanya, the miracle itu terjadi lagi. Sebuah tawaran beasiswa menjadi research student ia terima dari sebuah Universitas di Jepang. Awal yang bagus meskipun pada akhirnya ia harus rela menunda impian tersebut. Hmmm…sebaik-baik rencana kita jauh lebih baik rencana Allah, kan??

Di lain tempat, seorang siswa SMA yang baru saja lulus merasa girang bukan kepalang karena akhirnya ia bisa masuk jurusan yang bonafid sesuai harapannya selama ini. Yaa..meski untuk impiannya itu ia harus keluar banyak dana. (Tentu saja, karena di setiap impian besar, selalu ada pengorbanan yang harus kita bayarkan). Tapi, masalahnya ia sama sekali tidak cocok dengan jurusan tersebut. Bakat dan minatnya sama sekali bukan pada bidang itu. Hasil psikotest menunjukan bahwa ia adalah lebih cocok menjadi tekenisi, dan rendah sekali skor yang mendukung bidang-bidang yang membutuhkan kemampuan berinteraksi sosial dan minat pada mahluk hidup.
Pada semester awal masa studinya ia mulai merasa kewalahan. Tugas-tugas yang datang beriringan tak memberinya kesempatan sedikitpun untuk menekuni hobi lamanya. Ia mencoba melihat sekeliling. “Owhh..teman-temanku juga sama sibuknya”, ia mencoba meyakinkan diri.
Masa-masa berikutnya, kesibukan kampus semakin menggila. Ia tak hanya harus mengerjakan paper dan kuliah di ruang kelas hingga sore, tapi juga praktikum hingga malam. Bahkan terkadang, saat mahasiswa jurusan lain mendapat libur HARI BESAR yang panjang, ia harus rela hanya mendapat jatah tiga hari saja. Ia merasa sungguh-sungguh kewalahan. Bukan karena ia tak mau bekerja keras, tapi karena di saat-saat itulah ia semakin sadar bahwa belakangan ini ia merasa bukan dirinya!! Bakat dan minatnya sama sekali tak mendukung aktivitas kampus di jurusan impiannya. Entah kenapa, mengotak-atik benda elektronik yang ada di kosnya jauh lebih menyenangkan daripada berlama-lama di Laboratorium bersama kadafer (jasad manusia yang diawetkan, pen). Di tahun kedua masa studinya, ia memutuskan untuk pindah jurusan dan mengikuti ujian masuk universitas untuk jurusan yang lain.

Hmmm…sebuah pilihan hidup kadang tak mudah untuk kita ambil. Seorang sahabat berkata pada saya, ‘Libatkanlah Allah di setiap keputusan yang kamu ambil’. Tentu saja, karena DIA lebih tahu dari kita.
Jika kita mau jujur pada hati kita pasti adaaaa saja hikmah yang Ia simpan untuk kita. Kisah pertama memberikan gambaran bahwa kondisi yang kita nilai kurang menguntungkan bisa jadi menjadi SUMBER KEBAHAGIAAN yang tak pernah kita duga. Di sisi lain, kondisi yang kita nilai PASTI BAGUS belum tentu baik untuk kita. Jalanilah takdirmu karena Allah telah mempercayakan itu untukmu. Percayalah tak ada yang lebih baik daripada rela menjalaninya. Pada sebuah kondisi tak sesuai dengan keinginan kita, hanya tersedia dua pilihan:
TETAP JALANI atau TETAP KECEWA!!

–Catatan:
untuk mahasiswa kedokteran, saya mohon izin ya untuk menggunakan contoh kasus ke dua. Tidak bermaksud su’udzan. Tapi sekedar untuk bahan renunngan aja. Saya yakin, teman-teman mengerti–

BERDAKWAH DENGAN CARAMU

Kadang orang selalu bilang bahwa aktivis dakwah yang paling berkontribusi ialah yang memiliki Indeks prestasi tinggi, raport bagus, dan segudang prestasi akademik lainnya. Tapiii tahukah teman bahwa orang-orang yang merasa dirinya BIASA atau bahkan (maaf) merasa LIMIT BODOH pun dapat menyumbangkan hal besar bagi dakwah? Gak percaya?
Mengambil contoh kasus kecil saja: Tentang gerakan anti nyontek.

Baca lebih lanjut